Sebelas tahun. Tyasa pikir waktu sebanyak itu sudah cukup untuk membangun benteng yang mustahil ditembus. Namun, kepulangan seorang Ranuarsa Putra Rafi membuktikan bahwa tembok beton sekalipun bisa runtuh hanya dengan sebuah sapaan. Ranu bukan laki-laki brengsek yang meninggalkan luka lewat pengkhianatan. Dia justru terlalu baik, terlalu hangat sampai Tyasa sering keliru membaca garis antara perhatian seorang teman dan harapan yang dia ciptakan sendiri. Bagian paling sial dari mencintai Ranu adalah Tyasa tidak punya alasan untuk membencinya. Dan laki-laki yang berusaha Tyasa lupakan itu tiba-tiba kembali ke tanah air, membawa luka yang nyata. Dan di tengah rasa iba, ada sisi egois dalam diri Tyasa yang berbisik; his brokenness is her only opening. Mungkin, inilah satu-satunya celah bagi Tyasa untuk masuk dan menetap di sana.
Więcej szczegółów