Prejudice

Prejudice

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 27, 2025
39 tahun usia Kailani, tapi ia sama sekali belum pernah sekalipun berdekatan dengan lelaki. Untuk menguji orientasinya, ia berniat memakai seorang gigolo untuk melakukan cinta satu malam. Secara kebetulan ia menemukan tipenya secara tidak sengaja di kafe buku yang dikelolanya. Gigolo itu lelaki tampan bertubuh tinggi tegap yang kerap mendatangi kafenya bersama wanita yang Kailani pikir adalah kliennya. Dengan penuh keberanian, ia mendatangi lelaki itu dan memaparkan niatnya untuk menyewa jasa lelaki tersebut. Inilah awal kesalahpahaman antara dirinya dan Evander, lelaki tersebut yang dipikirnya seorang gigolo. Evander, lelaki 42 tahun pengacara mapan , punya firma sukses dan hidup yang elite. Semua dalam jangkauannya, kecuali satu. Ia menghindari hubungan dengan wanita. Bukan ia tidak tertarik, melainkan tak bisa. Dia tidak mempunyai gairah saat berdekatan dengan mereka. Pikirnya orientasinya yang berbeda, tapi itu pun salah. Yang jadi masalah adalah ia tak bisa membangkitkan nafsunya. Segala cara sudah dilakukan, merangsang, membangkitkan libidonya baik secara langsung atau tidak langsung, tetap tidak tergerak. Sampai ia menemukan seorang wanita yang membuatnya penasaran sekaligus takjub dengan keberaniannya. Wanita yang baru berkenalan dengannya tapi sudah berniat membayar jasanya, bukan sebagai pengacara tapi gigolo...
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Prahara Lamaran [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Salah Status
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Nakula
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Hello Mr. Komrad (Complete)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines