"Louis, kumohon lepaskan aku. Besok adalah hari pernikahanku dengan Victor."-Liyane. Tidak ada yang romantis dari penculikan. Terlebih jika itu dilakukan oleh seseorang yang terobsesi padamu. Orang-orang mungkin menyebutnya sebagai usaha atas nama cinta yang besar, lalu dengan mudah menganggapnya sebagai sesuatu yang romantis. Padahal tidak. Tidak ada yang romantis dari seseorang yang merampas pilihanmu. Bahkan jika ia melakukannya atas nama cinta, dan bahkan jika dunia menyebutnya pengorbanan. Karena cinta seharusnya tidak terasa seperti kehilangan pilihan, melainkan cinta adalah rasa aman tanpa kehilangan kebebasan. Namun, pada akhirnya semua itu tetap terjadi, tak peduli ia menginginkannya atau tidak. Dan Liyane merasakannya tanpa satu pun hal yang bisa disebut romantis hingga perlahan mulai kehilangan dirinya sendiri. ⚠️ Warning 18+ Cerita ini mengandung unsur manipulasi, kontrol, serta dinamika hubungan yang tidak sehat. Beberapa dialog dapat menyesatkan dan membenarkan hal yang keliru. Harap pembaca bersikap kritis dan tidak menelan mentah-mentah isi cerita.
More details