Echoes of Invasion

Echoes of Invasion

  • WpView
    Reads 50
  • WpVote
    Votes 66
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 26, 2025
Keseharianku ditemani bau asap dan tanah basah. Langit tak lagi biru, hanya warna abu-abu yang tak pernah pergi. Setiap pagi aku terbangun bukan karena cahaya matahari, tapi karena dentuman meriam dan jeritan orang-orang, Tahun 1918 atau begitulah katanya. Tapi waktu di dunia ini tak lagi terasa berarti. Ayahku adalah jendral militer yang dihormati dan ditakuti. Aku hanyalah prajurit di medan perang. Dan entah bagaimana, aku masih bertahan di parit ini saat dunia perlahan hancur. Menurutku Dunia hancur bukan hanya karena perang, tapi karena harapan itu sendiri telah dikubur dalam. 1918 saat aku kira semuanya akan segera usai ada sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh semua orang di muka bumi ini, di saat perang terjadi dimana-mana ada gempa yang terjadi secara tiba-tiba di berbagai tempat, dalam bencana tersebut muncul sebuah gerbang di beberapa belahan bumi. Awalnya semua terlihat bingung, sebelum ada pasukan yang keluar dari gerbang untuk memecah keheningan. Berbagi negara awalnya menganggap itu adalah jenis serangan baru dari musuh sebelum mereka tersadar jika itu adalah musuh baru.
All Rights Reserved
#14
mustread
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • BUN𝖦A PRIBUΜI |ᴅɪғғᴇʀᴇɴᴛ ʙʟᴏᴏᴅ| [END]
  • Asmaranala
  • SUAMI KAISAR
  • Para ibu generasi tahun 60-an dimanipulasi secara mental, dan seluruh keluarga m
  • Duchess of Valtor
  • 𝐒𝐓𝐎𝐑𝐘 𝟏𝟗𝟔𝟓 ║𝐏𝐈𝐄𝐑𝐑𝐄 𝐓𝐄𝐍𝐃𝐄𝐀𝐍
  • Permaisuri Palsu dan Harem Yang Kucuri
  • The Palace Stewardess
  • SINGASARI, I'm Coming! (END)

Sebutan wanita rendahan yang orang lain sematkan padanya tak membuat gadis itu menyesali keputusannya. Awalnya ia berpikir demikian, sampai di mana dirinya bertemu dengan sosoknya yang bagai hutan luas. Memberikan kesan tenang diawal, namun menyesatkan saat terlalu jauh melangkah. Perasaan gelisah menghantui seolah pohon-pohon itu siap menelannya dalam keterpurukan saat tak menemukan jalan pulang. Hanya ada hijau, seperti sorot matanya yang begitu dalam. Tak sampai di situ, rentetan kejadian tak terduga yang mengubah hidup dan cara pikirnya membuat Widari menyesali pilihannya. Kata 'andai', hanya sebatas kata yang tak bisa tercapai. Kehilangan orang-orang terkasih membuatnya tersadar, kini hidupnya tak lagi berarti. Keegoisan untuk hidup berdasarkan pilihannya sendiri kini ia sesali. Sosok baru datang. Seorang yang tempat asalnya masih abu-abu, sosok yang tak bisa Widari nilai dengan mudah, punggung lebar yang berdiri di hadapannya, melindunginya tanpa alasan yang jelas, mencoba menerobos masuk tanpa ia beri kesempatan. Hingga akhirnya memilih berakhir, mengakhiri takdir menyedihkan bersamanya dalam keputusasaan dan kehilangan... ____ ____ ● Mungkin terdapat beberapa kesalahan yang tak disadari oleh penulis. ●Semua dalam cerita hanya fiksi semata dan tak ada sangkut pautnya dengan kehidupan asli seseorang. ____ ~JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA, BERUPA VOTE & KOMEN~ ----- Cerita yang saya buat semata-mata hanya untuk dinikmati dan tidak untuk menyinggung pihak mana pun. Maaf jika ada salah yang tidak saya sengaja ataupun tidak saya ketahui. ----- PERINGATAN! CERITA YANG SAYA BUAT MURNI PEMIKIRAN SAYA SENDIRI. JADI TOLONG JANGAN COPY CERITA INI DENGAN ALASAN APAPUN! PLAGIAT HARAP MENJAUH! ___ NOTE : JIKA TIDAK MENYUKAI WATAK KARAKTER DALAM CERITA INI DIPERSILAHKAN UNTUK BERHENTI MEMBACA ATAU BACA CERITA SAYA YANG LAIN. ____ Publikasi: 15-05-2024 ____ Pictures: Canva & AI

More details
WpActionLinkContent Guidelines