Pada abad ke-9 di tanah Jawa, Kerajaan Mataram Kuno mengamuk dalam perluasan wilayah. Pasukan mereka yang gagah berani merangsek ke desa-desa, menuntut kepatuhan. Di salah satu perkampungan kuno, yang sangat menjunjung tinggi adat dan keyakinan Hindu leluhur yang berbeda dari Mataram Kuno, para tetua adat dengan gigih menolak untuk bergabung.
Penolakan itu berujung pada tragedi. Mataram Kuno tak mengenal ampun; seluruh warga desa dibantai tanpa sisa. Di tengah horor dan darah, seorang bocah bernama Waluyo menyaksikan sendiri kengerian itu. Kedua orang tuanya, pejuang tradisi yang tak gentar, tewas di hadapannya. Ajaibnya, Waluyo menjadi satu-satunya yang selamat.
Perdebatan pecah di antara prajurit; banyak yang ingin Waluyo dihabisi. Namun, Raja Rakai Pikatan memerintahkan agar bocah itu diselamatkan dan dibesarkan sebagai prajurit. Waluyo pun terpaksa tumbuh di tengah mereka yang telah merenggut segalanya darinya, benih dendam dan kepedihan mengakar kuat di jiwanya.
Waktu berlalu, fokus beralih ke Pangeran Bandung Bondowoso, seorang pangeran yang kini diliputi amarah. Setelah kegagalannya yang pahit mendapatkan cinta Roro Jonggrang yang berujung pada kutukan batu, kekesalan Bandung Bondowoso meluap. Waluyo, kini prajurit dewasa yang dianggapnya "tidak becus", menjadi sasaran kemarahannya. Dalam ledakan amarah, Bandung Bondowoso membunuh Waluyo.
Namun, di ambang kematian, Waluyo menolak takdir itu dengan seluruh kekuatannya. Dalam kegelapan yang menyergap, sebuah cahaya misterius datang menawarkan kehidupan kembali. Ada syarat berat: Waluyo harus menyaksikan dan merasakan kesedihan terdalam umat manusia di setiap kehidupannya yang baru. Sebagai gantinya, ia harus memusnahkan separuh populasi manusia untuk menghentikan siklus abadi perang, perebutan sumber daya, dan penderitaan. Waluyo, terbebani trauma masa lalu dan tawaran kekuatan tak terduga, menerima pakta kelam itu. Sejak saat itu, ia bukanlah Waluyo yang lama.
Todos los derechos reservados