Empat tahun lalu, mereka hanya sepasang teman angkatan di SMA. Dirana Anidya, gadis pendiam dengan tatapan tajam di balik kacamata bulat, dan Tama Gasfari, siswa teladan yang bercita-cita menjadi polisi. Tak ada yang tahu, ada rasa yang diam-diam tumbuh di sela waktu terlalu dalam, hingga perlahan menjelma menjadi sesuatu yang lebih gelap dari sekadar kenangan.
Kini, Tama telah menjadi salah satu Detektif Kepolisian termuda di Korea Selatan. Dikenal tajam, metodis, dan penuh dedikasi dalam menangani kasus-kasus pembunuhan berantai yang rumit dan nyaris tanpa jejak. Namun dalam setiap kasus, selalu ada satu hal yang tak bisa dijelaskan secara logis: sebuah amplop misterius yang muncul di lokasi kejadian. Isinya? Foto dirinya. Berdiri di dekat jasad para korban. Presisi. Hening. Diambil dari sudut mustahil.
Dan selalu ada inisial kecil di pojok bawah: T. (inisial namanya? Tama?)
Sementara itu, Dirana Anidya kini dikenal sebagai sutradara film thriller tersukses di industri perfilman Korea. Film-filmnya nyaris selalu memuat detail kejahatan yang menyeramkan, akurat, dan... terlalu nyata. Namun tak ada yang menyangka bahwa inspirasinya datang dari tempat yang jauh lebih gelap dari sekadar riset naskah. Obsesi, sekecil apa pun, selalu menuntut harga.
Saat satu kasus baru menampilkan pola yang terlalu personal terlalu dekat Tama mulai menyadari bahwa seseorang selama ini mengamati setiap langkahnya. Seseorang yang tahu lebih banyak dari polisi mana pun. Seseorang yang mungkin... terlalu dekat dengan si pembunuh. Atau justru, sudah menjadi bagian dari narasi kejahatan itu sendiri.
"Siapa sosok bayangan yang mengikuti setiap jejak Tama di tengah kasus-kasus mengerikan ini? Dan siapa sebenarnya dalang di balik rentetan pembunuhan berantai itu? Apakah sang pengamat diam-diam lebih terlibat dari yang terlihat?
Atau masih ada plot twist yang belum terungkap tersimpan rapat di balik lensa dan naskah film yang sempurna?"
Sebagai anak magang di laboratorium penelitian mutakhir, Selene tahu pekerjaannya tidak akan mudah. Tapi dia tidak pernah menyangka harus berhadapan dengan Axel-vampir berbahaya yang dikurung dengan rantai berat, tatapannya tajam dan penuh kejengkelan.
"Nah, manusia lain." Suaranya datar sebelum dia memutar mata, seolah keberadaan Selene hanyalah gangguan kecil dalam hari-harinya yang panjang.
Ilmuwan disini ingin memahami kekuatannya, mengungkap misteri yang membuatnya berbeda. Tapi Selene? Dia hanya ingin menemukan cara agar bisa bertahan... dan mungkin, mendekatinya tanpa menjadi target berikutnya.