FATED
  • WpView
    Odsłon 1,736
  • WpVote
    Głosy 142
  • WpPart
    Części 13
WpMetadataReadDla dorosłychW trakcie
WpMetadataNoticeOstatnia publikacja niedz., sie 10, 2025
Dulu, Evan Wiratama pernah main masak-masakan bareng tetangganya yang bencong. Sekarang? Tetangganya itu, Marshal Widianto, tumbuh jadi sekretaris OSIS paling sassy, paling nyolot, dan paling bikin jantungnya mau copot-baik karena kesel... maupun hal lain yang nggak boleh dia akui. Sebagai cowok populer, jago basket, dan punya ego sekeras dumbbell 50 kilo, Evan harus mempertahankan image sempurnanya di depan dunia. Masalahnya, Marshal nggak pernah peduli sama image siapa pun. Dia berdiri di koridor dengan eyeliner beleber dan highlighter murahan, sambil bilang, "Ngapain sih lo lihatin gue terus, Van? Naksir?" Dan Evan benci banget. Ego, denial, dan standar maskulinitas bikin semuanya jadi medan perang. Dari kerja bareng OSIS, saling ngata-ngatain, saling cemburu, sampai adu jotos sama pacar baru Marshal-Evan perlahan sadar... mungkin dia nggak "normal", atau mungkin... Marshal memang ditakdirkan buat ngacak-ngacak hidupnya. Apakah mereka emang Fated dari kecil-buat jatuh cinta, atau buat saling benci sampai mati? Notes: Cerita ini hanyalah fiksi belaka, kesamaan nama dan setting merupakan sebuah ketidaksengajaan dalam penulisan cerita. Cerita ini mengandung unsur yang mungkin membuat tidak nyaman untuk beberapa pembaca, dimohon bijak dalam memilih bacaan.
Wszelkie Prawa Zastrzeżone
Dołącz do największej społeczności pisarskiejOtrzymuj spersonalizowane rekomendacje dzieł, zapisuj ulubione dzieła w bibliotece oraz komentuj i głosuj, aby rozwijać swoją społeczność.
Illustration

To może też polubisz

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • GHAIKA (REVISI)
  • The Time
  • I'm Not Just a Figuran
  • Transmigrasi Ziora
  • Tsundere Maniak Susu
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • GRAVARENZO

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

Więcej szczegółów
WpActionLinkWytyczne Treści