Dulu, Evan Wiratama pernah main masak-masakan bareng tetangganya yang bencong. Sekarang? Tetangganya itu, Marshal Widianto, tumbuh jadi sekretaris OSIS paling sassy, paling nyolot, dan paling bikin jantungnya mau copot-baik karena kesel... maupun hal lain yang nggak boleh dia akui.
Sebagai cowok populer, jago basket, dan punya ego sekeras dumbbell 50 kilo, Evan harus mempertahankan image sempurnanya di depan dunia. Masalahnya, Marshal nggak pernah peduli sama image siapa pun. Dia berdiri di koridor dengan eyeliner beleber dan highlighter murahan, sambil bilang, "Ngapain sih lo lihatin gue terus, Van? Naksir?"
Dan Evan benci banget.
Ego, denial, dan standar maskulinitas bikin semuanya jadi medan perang.
Dari kerja bareng OSIS, saling ngata-ngatain, saling cemburu, sampai adu jotos sama pacar baru Marshal-Evan perlahan sadar... mungkin dia nggak "normal", atau mungkin... Marshal memang ditakdirkan buat ngacak-ngacak hidupnya.
Apakah mereka emang Fated dari kecil-buat jatuh cinta, atau buat saling benci sampai mati?
Notes: Cerita ini hanyalah fiksi belaka, kesamaan nama dan setting merupakan sebuah ketidaksengajaan dalam penulisan cerita. Cerita ini mengandung unsur yang mungkin membuat tidak nyaman untuk beberapa pembaca, dimohon bijak dalam memilih bacaan.
!WARNING!
Pastikan memeriksa judul bab sebelum baca, karna sering terjadi kesalahan urutan bab. Terimakasih.
Keluarga Adicandra nggak kenal kata "lemah". Buat mereka, hidup itu soal angka di bursa saham, reputasi di koran bisnis, dan kesempurnaan fisik. Sayangnya, Galen, anak ketiga dari empat bersaudara, lahir sebagai "produk gagal" di mata mereka. Penampilan cupu, kacamata tebal, dan sifat pendiamnya bikin dia cuma jadi bayangan di rumah mewah itu. Sampai suatu titik, Galen sadar kalau mau jungkir balik kayak gimana pun, dia nggak akan pernah dianggap.
Galen milih pergi. Dia buang identitas Adicandra, ganti gaya jadi bad boy yang rebel, dan mulai hidup di jalanan. Tapi saat dia mulai nyaman dengan kebebasannya, keluarga yang dulu mengabaikannya tiba-tiba merasa kehilangan "aset" dan mulai berburu Galen dengan cara yang gila.