Kak Ice? Ini aku, Blaze.

Kak Ice? Ini aku, Blaze.

  • WpView
    Reads 1,453
  • WpVote
    Votes 148
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 4, 2026
"Kita bertemu lagi, tapi bukan sebagai 'Kak Icy' dan 'api kecilku'." ────⛇☃︎──── Warning ‼️⚠️ - BxB, Yaoi, Omegavers, MPERG. - Ada beberapa kata kasar dan adegan kasar didalamnya. - Bahasa campuran (baku dan tidak baku). 📌 Saya hanya meminjam nama karakternya. Segala kaitan kekeluargaan karakter, dan sifat karakter pada book ini tidak ada kaitannya dengan kartun yang aslinya. 📌 Cerita ini murni ide dan pemikiran saya. ⚘ First for all, saya mohon maaf apabila ada bahasa yang kurang berkenan menurut pembaca dalam cerita saya. Saya juga mengucapkan terima kasih karena sudah berkenan membaca cerita saya. Happy reading, Enjoy!
All Rights Reserved
#66
ice
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • Chasing Sanara
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • De Andere Weg (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Almost Married (END)
  • The Last Yes!
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines