We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
『confused』: Nico Bashkara

『confused』: Nico Bashkara

  • WpView
    Reads 58
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 12, 2026
WpInfo
Fiction
Action and Thriller
Psychological
Bayi laki-laki yang ditemukan nek Bella di samping tempat sampah saat ia memulung. Karna merasa kasihan akan bayi itu, ia memutuskan untuk merawatnya hingga sekarang menginjak umur 13 tahun. Bayi laki-laki itu diberi nama NICO BASHKARA. Sedangkan, nama panggilannya adalah Nico. Nico tumbuh menjadi anak yang penuh energi. Bagaimana jadinya jika ia tiba-tiba di pertemukan dengan keluarga posesif? "Kalian apa apaan, sih?! Kalian siapa, ha?! Gak usah ngatur-ngatur hidup gua."_Nico "Kita keluargamu, son." ?? "Eleh, gua nggak punya keluarga ya, dari dulu gua hidup sama nek Bella. Jadi, kalian yang gantengnya masih gantengan gue nggak usah ngaku-ngaku jadi keluarga gue." _Nico "Kita keluarga aslimu, Dek. Jangan percaya sama mereka." ?? Bagaimana kehidupan Nico selanjutnya? Apakah ia memilih untuk menerima keluarga itu atau memilih untuk kabur? Pantengin terus cerita Nico Bashkara. Ini murni dari pikiran author sendiri. Jika tidak suka maka tidak usah baca. Jangan plagiat.
All Rights Reserved
#954
familyship
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ARSITEK PERADABAN
  • PIRELINT; GaRa
  • AVISENA
  • Hello, Mr. Mafia!
  • 𝐀𝐊𝐔 &𝐒𝐀𝐇𝐀𝐁𝐀𝐓𝐊𝐔 𝐃𝐄𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐕𝐄𝐑𝐒𝐈 𝟑 𝐃𝐈𝐑𝐈𝐍𝐘𝐀 [𝐎𝐍 𝐆𝐎]
  • Never Enough
  • The Last Antagonis
  • White bloom [ END ]
  • KENZIE AURELIAN ✓
  • Trakea Dan Takdir

Alan sedang menulis di papan tulis, tangan gemetar saat mencoba menjelaskan materi sejarah. Tiba-tiba sesuatu menghantam kepalanya, dan penghapus jatuh ke lantai, diikuti tawa kecil dari beberapa siswa. Alan menoleh dan melihat Damar duduk santai di dekat jendela, kaki dinaikkan ke kursi, matanya menatapnya lurus. Tanpa menutupi rasa usilnya. "Damar, jangan begitu " suara Alan terdengar cemas. "Kenapa? Cuma penghapus " Damar menjawab datar, mengangkat bahu tanpa menyesal. Sebelum Alan sempat menegur lebih jauh, suara kursi terseret keras dari belakang kelas memotong semuanya. Semua mata menoleh. Raka berdiri dengan langkah pelan tapi berat, berjalan langsung ke Damar. Kelas hening saat Raka berhenti di depan mejanya. "Ambil," suara Raka rendah, menunjuk penghapus di lantai dekat kaki Alan. Damar menatapnya sebentar, lalu menatap Raka lagi. "Kalau nggak?" Tangan Raka mencengkeram kerah seragam Damar dengan cepat. Kursi Damar terdorong ke belakang, membuat Alan tersentak. "Raka, jangan" Raka menoleh sekilas ke arah Alan. "Diam." Alan langsung menutup mulut. Raka kembali menatap Damar dengan tajam. "Jangan sentuh apa pun yang ada di depan kelas." Damar menatap beberapa detik, lalu terkekeh pelan. Ia menunduk, mengambil penghapus dari lantai. Di belakang, Arvin hanya duduk bersandar di kursinya. Matanya mengikuti setiap gerakan, tenang, observatif, tanpa ikut bicara. Di bangku depan, Fariz memutar pulpen di jarinya, menatap Alan tanpa berkedip, berdiri perlahan dan berkata, "Pak Guru." Alan menoleh kaku. "Takut ya tadi?" Alan buru-buru menggeleng. "Ti-tidak..." Fariz tersenyum kecil, senyum yang aneh, seperti menyimpan maksud tersembunyi. "Tangan Bapak gemetar." Dari belakang kelas, suara Raka terdengar dingin " Duduk " Fariz melirik Raka sebentar. "Iya," gumamnya pelan sebelum kembali ke bangkunya. Tapi sebelum duduk, ia menatap Alan sekali lagi. Matanya menyipit. "Kalau ada yang ganggu lagi, gue mau lihat wajah panik pak guru lagi, lucu soalnya "

More details
WpActionLinkContent Guidelines