"Aku bertahan, bukan karena bodoh. Tapi karena aku percaya-seseorang yang kucintai akan memilih tinggal. Tapi nyatanya, yang bertahanlah yang paling sering terluka."
Ini adalah kisah seorang perempuan yang mencintai dengan tulus, memberi ruang, waktu, dan hatinya untuk seseorang yang tak pernah benar-benar hadir sepenuh hati.
Melalui hubungan jarak jauh yang penuh janji manis, ia memupuk harapan. Ia menjadi rumah bagi keluh kesah pasangannya, menjadi tempat pulang dari segala lelah. Tapi saat ia sendiri membutuhkan dipeluk, dipahami, dan dihargai-yang ia temui hanya tembok, pengabaian, dan kata-kata yang menyudutkan.
Hingga suatu hari, setelah mempertahankan segalanya sendirian, ia akhirnya ditinggalkan begitu saja. Tanpa pertemuan, tanpa penjelasan yang jujur. Hanya kata-kata ringan yang meninggalkan luka berat.
Ini bukan kisah cinta yang berhasil. Tapi ini adalah kisah seseorang yang berhasil menyelamatkan dirinya sendiri.
"Yang Bertahan, Yang Terluka" bukan hanya catatan perpisahan. Ini adalah surat panjang untuk semua hati yang pernah memberi terlalu banyak, tanpa pernah benar-benar dimiliki. Dan pada akhirnya, ini adalah kisah pulang-bukan kepada siapa-siapa, tapi kepada diri sendiri.
Todos os Direitos Reservados