ANGKASA BIRU RADEVA

ANGKASA BIRU RADEVA

  • WpView
    Reads 37
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 30, 2025
Mari bertemu di kehidupan selanjutnya. Tak perlu menjadi sempurna. Tak perlu menjadi hebat untuk siapapun. Cukup bisa bersama-sama dengan lama. Menggoreskan hal-hal indah yang selalu kita angan sebelumnya. Bahkan, seperti harapan ku hingga sekarang agar kita bisa bersamamu melakukan hal itu. Angkasa, langit mu hingga saat ini masih indah. Seperti senyuman mu yang dulu bisa selalu aku lihat. Ada begitu banyak hal yang ingin ku sampaikan. Namun, sepertinya aku lebih suka melihat biru nya langit yang membentang luas di atas cakrawala. Angkasa, aku masih di sini. Di bawah bentangan dan rengkuhan langit mu yang indah. Merayakan ribuan kisah kita penuh dengan suka cita dan berakhir dengan air mata. Aku di sini bercerita tentang bagaimana dekapmu waktu itu yang menjadi satu-satunya hal yang akan selalu aku rindukan.Dekap mu yang selalu menjadi rumah untuk ku pulang. Dekap mu yang belum pernah aku rasakan dari keluarga ku sendiri. Angkasa, apakah aku boleh egois untuk meminta dekapan itu lagi? Apa aku boleh egois untuk meminta mu kembali? Jika memang iya, maka aku tidak akan melepaskan mu begitu saja. Hai semesta, jika memang seperti ini akhirnya, bolehkah aku melihat dia tersenyum lagi? Setidaknya untuk yang terakhir kali, sebelum aku benar-benar berdamai dengan hubungan ini.
All Rights Reserved
#21
radeva
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Transmigrasi Ziora
  • EVANESCENT
  • The Time
  • GHAIKA (REVISI)
  • Tsundere Maniak Susu
  • GRAVARENZO
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Blueprint Pelarian Villain
  • I'm Not Just a Figuran

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines