Dunia ini kadang terlalu kecil untuk dua orang yang saling bertolak belakang. Apalagi kalau keduanya tinggal di gang yang sama, ngelewatin warung yang sama, bahkan rebutan tukang sayur yang sama.
Dia, si tukang marah. khaera. Cewek jutek tingkat dewa yang bisa bikin bunga layu cuma karena tatapannya yang sinis dan tajam. Hobinya ngomel, dari ayam tetangga yang suka nyelonong ke halaman rumah, sampai anak kecil yang ketawa terlalu keras. Untuknya, dunia harus teratur, rapi, dan sunyi. Dan kalau ada yang bikin berisik? Siap-siap dimarahin, lengkap dengan tatapan sinis level 99.
Lalu ada haikal. Si tukang gombal. Nafasnya aja kayaknya udah ngeluarin rayuan. Tukang senyum, tukang iseng, dan tukang bikin Nadine pengen banting wajan. Geri percaya bahwa dunia ini terlalu singkat untuk diisi dengan marah-marah. Jadi dia isi waktunya dengan menggoda Nadine, si tetangga galak yang menurutnya "lebih cantik pas lagi cemberut."
Mereka seperti air dan minyak. Tapi siapa sangka, dari ribut kecil soal jemuran nyangkut di pagar, sampai pertengkaran tentang lagu pagi yang terlalu kencang, perlahan ada sesuatu yang tumbuh di antara bentakan dan gombalan, di antara tatapan sinis dan senyum jail.
Karena kadang, cinta nggak selalu datang lewat bunga dan puisi. Kadang, cinta datang... dalam bentuk omelan dan gombalan yang nyebelin tapi dirinduin.
Todos los derechos reservados