Kadang aku mikir...
Kalau aja kita lahir di tempat yang sama, punya keyakinan yang sama, mungkin sekarang kita gak harus saling melepaskan.
Tiap hari aku selalu mikir, gimana caranya kita bisa tetap bareng meski semesta kayaknya gak ngerestuin.
Tapi makin ke sini, aku makin sadar...
Ada hal-hal yang gak bisa kita lawan, sekuat apapun rasa kita.
Kita beda.
Aku pernah berharap bisa terus genggam tangan kamu, sampai tua.
Tapi ternyata, cinta aja gak cukup.
Karena kenyataannya, kita harus ngelawan terlalu banyak hal... dan aku lelah.
Aku gak pernah nyesel kenal kamu. Gak akan pernah.
Dua tahun ini, kamu rumah buat aku.
Tapi sekarang, aku harus belajar ngelepas... walau hatiku masih pengen tinggal.
Tapi realitanya gak semudah itu.
Kita beda agama... dan kita bahkan hidup di dua negara yang beda.
Bukan cuma jarak yang pisahin, tapi juga keyakinan, keluarga, masa depan, semua hal yang gak bisa kita samain, sekeras apapun kita coba.
Aku pernah berharap kita bisa nekat, bisa lawan semuanya.
Tapi ternyata... gak semua cinta bisa dilawan.
Ada cinta yang justru harus dilepas, demi ngelepasin beban yang makin berat dipikul berdua.
Aku gak nyalahin kamu, dan aku gak nyalahin diri sendiri.
Kita udah coba. Kita udah perjuangin sejauh yang kita bisa.
Tapi kadang, cinta yang paling tulus pun... harus tahu kapan berhenti.
Aku akan tetap nyayangin kamu, dalam diam.
Doaku gak akan putus, meskipun namamu gak bisa aku sebut dalam cara yang dulu kamu ajarkan.
Makasih ya... udah pernah jadi rumah buat aku.
Makasih udah nyempetin sayangin aku, walau dunia kita gak pernah satu.
Selamat tinggal... cinta yang gak salah, tapi gak bisa lanjut.
Tania Ivana Prameswari sudah punya segalanya: followers jutaan, endorsement melimpah, dan wajah viral di TikTok. Tapi sayangnya, satu hal yang belum bisa dia "beli" dengan popularitasnya adalah ... ACC dari Elio Pradipta Komara, dosen killer dengan wajah rupawan dan mulut sepedas cabe rawit.
Mahasiswa fakultas hukum menyebutnya Mr. Komrad, bukan karena dia ramah, tapi karena gayanya yang otoriter, dingin, dan katanya ... hatinya sudah dicabut negara.
Sialnya, Tania harus menyelesaikan skripsinya di bawah pengawasan Elio, sang algojo akademik. Tiap bab direvisi, tiap argumen dicabik, tiap senyumnya dibalas datar. Tapi Tania bukan selebgram sembarangan, dia sudah bertekad lulus tahun ini, walau harus pasang infus atau jual semua skincare.
Namun segalanya berubah ... saat Tania terjebak lima jam di dalam lift bersama Mr. Komrad.
Yang ada hanya dua manusia dengan ego besar, tensi tinggi, dan... satu rahasia kecil yang bisa mengubah segalanya.
Apakah Tania akan tetap membenci Mr. Komrad? Atau justru mulai melihat sisi lain dari dosen paling menyeramkan se-fakultas hukum?