Semuanya tampak biasa saja-kelas, tawa, tugas yang menumpuk, dan rencana-rencana kecil yang terasa besar di usia belasan. Tapi satu malam, satu benturan, satu momen tak terduga... mengubah arah segalanya.
Ketika cahaya sirine memantul di pelipis yang berdarah dan diam menjadi satu-satunya suara, kehidupan mereka tak lagi sama. Bukan hanya tubuh yang terluka-tapi juga hati, hubungan, dan cara mereka saling memandang.
Ada yang mulai menjauh, bukan karena benci, tapi karena kecewa yang tak sanggup diucap. Ada yang diam-diam menahan sesak, dan ada pula yang pura-pura tertawa agar semuanya tetap terasa utuh.
Karena dalam perjalanan menuju dewasa, tidak semua luka bisa dilihat dari luar. Beberapa tersembunyi... di balik setir, di balik tawa, di balik tatapan yang mulai asing.
Dan satu hal yang tak mereka sadari: luka yang paling tak terlihat... justru yang paling sulit sembuh.