Semuanya tampak biasa saja-kelas, tawa, tugas yang menumpuk, dan rencana-rencana kecil yang terasa besar di usia belasan. Tapi satu malam, satu benturan, satu momen tak terduga... mengubah arah segalanya.
Ketika cahaya sirine memantul di pelipis yang berdarah dan diam menjadi satu-satunya suara, kehidupan mereka tak lagi sama. Bukan hanya tubuh yang terluka-tapi juga hati, hubungan, dan cara mereka saling memandang.
Ada yang mulai menjauh, bukan karena benci, tapi karena kecewa yang tak sanggup diucap. Ada yang diam-diam menahan sesak, dan ada pula yang pura-pura tertawa agar semuanya tetap terasa utuh.
Karena dalam perjalanan menuju dewasa, tidak semua luka bisa dilihat dari luar. Beberapa tersembunyi... di balik setir, di balik tawa, di balik tatapan yang mulai asing.
Dan satu hal yang tak mereka sadari: luka yang paling tak terlihat... justru yang paling sulit sembuh.
"Gue nikah sama lo karena terpaksa Asya." ( Arkan putra Pradipta)
Apakah Asya sejahat itu hingga Arka membencinya? Apa yang Asya harapan pada Arkan putra Pradipta?
Tidak ada. Laki-laki itu baik dulu ataupun sekarang, selalu menganggapnya sebagai benalu. Apa lagi Arka sudah memiliki pacar sebelum mereka menikah.
Asya mencintai Arka, sangat. Tetapi, Arka tentu mencintai kekasihnya --Naira Diandra. Gadis yang Asya benci, label ratu bullying membuatnya tentu membully gadis lemah itu.
Kehidupan mereka bagaikan sebuah perahu kecil yang terombang-ambing di lautan yang sedang dilanda badai besar. Begitu menguras emosi.
Suatu hari, Asya mengalami kecelakaan sehingga membuat ia kehilangan ingatan. Ia melupakan sosok Arka.
Bagaimana, kisah kelanjutan rumah tangga mereka?
Tambahkan ke perpustakaan kalian jika kalian menyukai cerita ARKASYA, thank you ♥️
High rank
#1 SMA [27/09/2021]
#1 NATASYA [9/11/2021]
#1 Badboy [15/08/2022]
#5 TEENFICTION [30/08/2022]
#2 sekolah [ 8 / 09 /2023]
# 2 Romantis [9/09/2023]
#2bucin [08/09/2023]
Cover by pinterest
Note: Mohon jangan diplagiat karena saya membuat cerita ini dengan imajinasi saya sendiri dan banyak mengorbankan waktu