Menjelang Jam Dua

Menjelang Jam Dua

  • WpView
    Reads 212
  • WpVote
    Votes 32
  • WpPart
    Parts 27
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 22, 2025
Jam dua dini hari. Waktu ketika kota tertidur, ketika suara jadi samar, dan rahasia pelan-pelan mulai mencari jalan keluar. Bagi Khaluna Razetta, jam dua bukan sekadar angka. Itu adalah waktu yang membeku---saat ketakutan diam-diam menempel di jendela, saat kenangan datang tanpa diundang. Dalam hitungan hari menuju pernikahan, Khaluna mencoba menyatukan potongan hidup yang selama ini ia pertahankan dengan susah payah : luka masa kecil, cinta yang menyesakkan, dan mimpi tentang kebahagiaan yang nyaris ia genggam. Tapi malam itu---malam menjelang jam dua---sesuatu berubah. Percakapan yang seharusnya tak pernah terjadi. Perasaan yang seharusnya sudah mati. Dan seseorang yang seharusnya tak kembali. Waktu tidak bisa ditunda. Ketika jarum jam melewati angka dua, hidup Khaluna tak akan pernah sama lagi. Dan cinta yang katanya akan menyelamatkan, justru berubah menjadi sesuatu yang membunuh perlahan. Karena kadang, jam dua pagi bukanlah waktu untuk bermimpi... tetapi waktu untuk kehilangan segalanya.
All Rights Reserved
#75
kelam
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • EVANESCENT
  • GHAIKA (REVISI)
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Blueprint Pelarian Villain
  • Tsundere Maniak Susu
  • I'm Not Just a Figuran
  • GRAVARENZO
  • The Time
  • Transmigrasi Ziora

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines