KIAMBANG : tragedi bunga liar

KIAMBANG : tragedi bunga liar

  • WpView
    Reads 707
  • WpVote
    Votes 145
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing39m
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 30, 2025
Air tenang tak pernah menentang bunga liar, dibiarkannya tumbuh walau tak benar-benar berniat merengkuh. Sayang seribu sayang, dalam tenangnya air tersimpan gelembung-gelembung kemarahan, senyap menghimpit dan menolak keberadaan. Demi hilang segala amarah, bunga liar mencabut akar dan menyerah kepada arus yang menuntunnya pada kematian. Malangnya si bunga liar, di air tenang tak diharapkan, di derasnya arus ia tak mampu bertahan. #Trigger Warning : rape, manipulation, abuse (sexual, emotional, & physical) ~ 1 Juli 2025
All Rights Reserved
#394
perjodohan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Putih abu-abu
  • Sampai di titik, "Hallo" lagi
  • Anti Fragile (21+) - COMPLETE
  • Tsundere Husband (HaliGem) [C]√
  • Encik Crush Itu Milikku
  • AMNESIA
  • ADMIRE | Ayesha Qiara x Daryan Izwan
  • Please Don't Leave Me
  • Yang Aku Tunggu Tanpa Janji
  • TAKDIR KITA ?

Rio menatap gadis yang berjongkok di depannya menangisi kuas yang telah terbagi menjadi dua di depan teras rumah. pria itu menjajarkan berjongkok dan emncoba menatap mata Andini yang angkuh namun kini dipenuhi dengan air mata. "jangan nangis, berisik, saya terganggu" Andini menatap Rio dengan penuh kemarahan. "pasti lo yang kasih tau ke papa dan mama kan?! daar tukang ngadu! harunya lo tau diri! gue udah cukup baik dengan nerima lo di rumah gue!" itulah ucapan kasar Andini yang selalu membal di hati Rio. setelah seminggu berlalu, Andini menatap sebuah kuas yang sama persis terletak di dalam tasnya 'jangan nangis berisik' Andini tau kuas itu dari siapa, dan dari mana asalnya. dan dalam seminggu jantung Andini ebrdetak kembali lebih cepat seperti biasa, ketika ia terlalu dekat dengan Rio, ketika Rio menggendongnya di belakang, atau ektika Rio pasrah menjadi bulan-bulanannya. dan Andini tahu, itu bukan sekedar kagum. ia jatuh cinta.

More details
WpActionLinkContent Guidelines