In Nomine
(Perempuan yang Membakar Kisahnya)
Ia lahir bukan dari rahim bumi, melainkan dari serpih kegelapan dunia lain-jiwa tanpa nama yang menolak tunduk pada takdir. Ketika matanya terbuka di tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun, ia mendengar gema tangis yang disembunyikan di balik senyum sopan, merasakan jerat tak kasat mata yang menuntut patuh, lembut, dan diam.
Namun, takdir adalah meja perjudian bagi mereka yang berani menentang. Dan ia menolak menjadi sekadar narasi manis dalam kitab patriarki yang diwariskan turun-temurun. Ia menyalakan bara dalam nadi gadis itu, membakar setiap kisah yang pernah dipaksa untuk dituliskan orang lain.
Di antara kelam dan desir cinta yang berbahaya, ia menari di tepian maut-merayu, menghancurkan, dan merangkai ulang makna menjadi miliknya sendiri.
Sumpahnya adalah kidung gelap bagi jiwa-jiwa yang merindu kebebasan, bagi perempuan yang berani mengoyak takdir, dan bagi cinta yang lahir di bawah bayangan luka.
Sebab dalam namanya, api tak pernah padam. Dan dalam cintanya, dunia akan terbakar.