"Aku pernah dibuat merasa paling bahagia... lalu ditinggalkan tanpa kata. Bukan karena pertengkaran, tapi karena perlahan-lahan aku mulai merasa sendirian, bahkan saat aku masih bersamanya." -penulis.
When It Was Just Me.. kisah cinta anak SMA yang hanya berakhir menjadi luka terhebat, serta pelajaran berharga bagi hidupnya.
Ini bukan sekadar cerita patah hati, tapi perjalanan panjang seorang anak muda dalam belajar menerima kehilangan, menerima kenyataan bahwa tidak semua yang kita cintai akan tinggal selamanya.
Melalui bab-bab reflektif, puisi sunyi, dan surat-surat ataupun suara hati yang tak pernah tersampaikan, buku ini mengajakmu menyelami emosi yang tak asing: kesepian, keraguan, kerinduan, harapan yang runtuh, dan usaha perlahan untuk kembali menemukan diri sendiri.
Ini bukan tentang bagaimana menjadi kuat.
Melainkan tentang bagaimana tetap bertahan... meski sedang rapuh,
dan bila kamu pernah merasa sendirian, semoga tulisan ini bisa menjadi teman mu satu-satunya.
All Rights Reserved