Only One [SELESAI]

Only One [SELESAI]

  • WpView
    Reads 1,425
  • WpVote
    Votes 747
  • WpPart
    Parts 30
WpMetadataReadComplete Wed, Jul 30, 2025
Hidup di dunia ini tidaklah mudah. Pasti banyak luka yang harus dirasakan. Karena, setiap jalan berliku saat dilewati. Rasa sakit, kecewa, dan duka dialami Auretta. Ia sadar, hidup itu memang tidaklah mudah. Terlebih, ia harus berusaha kuat. Karena, hanya itu yang bisa dilakukan untuk menutupi segala hal yang ada dalam dirinya. Terkadang, ia merasa seperti memakai topeng. Namun, mungkin itu salah satu hal yang bisa membuatnya lebih baik serta tenang. Masa lalu tidak selamanya harus dikenang. Apalagi, bila itu meninggalkan sebuah luka mendalam. Serta, ada hal yang sulit untuk diperbaiki. Seperti yang dialami Semesta. Dan, sekarang ia harus bangkit dari segala hal buruk. Meskipun, semua tidak mudah dilalui. Karena, pasti jalannya akan berliku. Akankah semua akan bisa dilalui keduanya dengan mudah serta mendapatkan kebahagiaan? Start update in Wattpad : 01 Juli 2025 Ending in Wattpad : 30 Juli 2025
All Rights Reserved
#14
thanatorn
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Villain's Mother
  • Nala dan Mas Juragan
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Almost Married (END)
  • De Andere Weg (END)
  • Chasing Sanara
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Last Yes!
  • I Won't Be the Tragic Fiancée

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines