Nasib seorang gadis miskin yang bermimpi hidupnya seperti di drama china yang sering ia tonton. Hagia Seraphine, gadis sebatang kara yang hidup sendiri di kota. Setelah kepergian ibunya Hagia hanya memiliki sebuah kalung berliontin bunga peony sebagai petunjuk keberadaan sang ayah.
Sayangnya hidup tidak semudah itu, ia harus berusaha keras untuk tetap melanjutkan hidupnya. Hagia berjalan gontai sudah banyak perusahaan yang ia datangi namun belum juga ada tanda-tanda ia mendapatkan pekerjaan.
"Kenapa hidup gue serumit ini, sih?! Andai hidup gue seindah drama China, bertemu CEO muda kaya raya terus dia jatuh cinta sama gue dan jadiin gue ratunya. Arggh!" Ia menendang kaleng bekas minuman didepannya.
"ADUHH!"
Hagia terperanjat saat kaleng itu mengenai kepala seseorang, ia merutuki dirinya sendiri yang lagi-lagi selalu mendatangkan masalah.
"Mati gue, duh gimana, nih? Ibu bohong banget katanya gue pembawa keberuntungan sama kayak bunga peony ini tapi nyatanya gue pembawa sial," gerutunya.
Seorang lelaki tinggi berkulit putih dengan setelan jasnya menghampiri Hagia. "Lo 'kan yang lempar kaleng ini ke kepala gue?"
"Om, jangan asal tuduh, dong," elak Hagia.
"Am om am om, lo kira gue om lo!"
"Idih, marah-marah mulu dasar pak tua!" ledek Hagia.
lelaki yang disebut pak tua oleh Hagia itu menatap nyalang gadis kecil di hadapannya. Tak lama seseorang menghampiri mereka, lelaki dengan setelan jas hitam itu menunduk di hadapan si pak tua.
"Tuan, seseorang melihat nyonya berada di sekitaran pasar."
Hagia berjalan mundur saat lelaki yang tanpa sengaja ia timpuk tadi berjalan mendekatinya, lelaki itu sedikit menunduk dan berkata, "Urusan kita belum selesai."
Deep voicenya mampu membuat Hagia mematung, ia tersadar kembali saat mobil mewah itu berlalu melewatinya.
"Tuhan, Hagia memang pengen kehidupan kayak di drama China tapi nggak sama orang nyebelin kayak si pak tua itu, ish!"
Tiga tahun Jeselyn Ananta menghabiskan waktunya mengejar bayang-bayang tunangan nya, Leon Gamalio. Baginya, Leon adalah segalanya.
Namun, malam itu mengubah segalanya.
Hantaman keras sebuah truk di persimpangan jalan gelap membuat nya berada di ambang maut, dalam koma yang panjang, jiwa Jeselyn melayang masuk ke sebuah masa depan yang tak pernah ia bayangkan.
Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih dewasa, lebih rapuh, dan hancur di tengah kemewahan sebuah rumah megah.
"Mau ke mana lagi?" tanya Jeselyn masa depan dengan suara serak akibat tangis.
"Menemani wanita yang sedang mengandung anakku," jawab Leon dingin, tanpa sedikit pun menoleh.
Kenyataan pahit itu menghujam jantung Jeselyn. Pernikahan yang ia impikan ternyata hanyalah penjara tanpa cinta.