Polog
Hujan senja itu mengalirkan sisa-sisa rintik di jendela rumah Kaffa. Langit kelabu menggantung, seolah turut merasakan luka yang menderanya. Hatinya masih basah oleh kenangan, oleh janji-janji yang tak lagi bisa ditepati. Seharusnya hari ini ia mengenakan gaun pengantin putih, berjalan di lorong masjid yang dipenuhi senyum dan doa. Namun yang ada hanya sunyi, ditemani lembar-lembar undangan yang tak sempat dikirimkan.
Patah hati itu bukan yang pertama, tapi luka kali ini lebih dalam dari sebelumnya. Dengan hati yang remuk, Kaffa memutuskan menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Ia mengajukan diri sebagai relawan pengajar ke sebuah daerah terpencil di Magelang-sebuah tempat yang jauh dari ingar-bingar kota, yang diharapkannya bisa menjadi pelipur lara.
Di sana, di antara hijaunya perbukitan dan udara yang dingin menusuk, Kaffa menemukan kehidupan baru. Anak-anak kecil dengan senyum polos dan semangat belajar yang membara. Namun takdir seolah senang bermain-main. Kehadiran Arjun Gautama, seorang tentara gagah dengan senyum yang meneduhkan, perlahan mencairkan dinding yang Kaffa bangun untuk melindungi hatinya. Ia, yang awalnya hanya teman di tanah asing itu, menjadi seseorang yang membuat Kaffa kembali percaya bahwa cinta masih mungkin.
Namun, lagi-lagi Tuhan tak berpihak pada rasa cinta yang ia bangun. Dan meski hati telah memilih, Kaffa sadar bahwa cinta yang tak berpijak pada landasan iman yang sama hanya akan melahirkan luka baru. Ia pun pasrah, menerima lelaki pilihan orang tuanya meski hatinya masih untuk Arjun.