Waktu berjalan tanpa ampun, tapi kenangan tak pernah benar-benar hilang. Talia tahu itu saat ia melangkahkan kaki ke lorong sekolah barunya lorong yang tak asing, tapi penuh wajah baru.
Hiruk-pikuk siswa SMA tak mampu menenggelamkan dentuman pelan di dadanya saat matanya menangkap sosok itu.
Mavian.
Namanya langsung muncul di benaknya, seperti buku lama yang dibuka kembali tanpa debu. Mereka pernah dekat terlalu dekat untuk sekadar disebut teman, namun terlalu muda untuk benar-benar mengerti.
Sejak perpisahan itu, tahun-tahun berlalu tanpa kabar, hanya menyisakan bayangan samar dan pertanyaan yang tak pernah dijawab.
Kini, dia berdiri di ujung koridor, bersandar santai sambil tertawa kecil bersama seorang gadis Cantik, ceria, dan jelas punya tempat spesial di hati Mavian. Talia melihat caranya menatap gadis itu, dan ada bagian kecil di dalam dirinya yang meremuk.
Namun bukan hanya Talia yang terdiam oleh kehadiran masa lalu. Mavian juga merasakan sesuatu berubah saat mata mereka bertemu. ada kegelisahan yang tak bisa ia jelaskan. Ia mencintai Serafina, bukan? Setidaknya, itulah yang selalu ia katakan pada dirinya sendiri.
Tapi mengapa, sejak Talia kembali, semuanya jadi tak pasti?
Todos los derechos reservados