Cahaya Cinta di Langit Pesantren

Cahaya Cinta di Langit Pesantren

  • WpView
    Reads 11,641
  • WpVote
    Votes 559
  • WpPart
    Parts 27
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 22, 2025
【Santri dari keluarga biasa×Santri wati cerdas+Pendidikan,cinta dalam diam+Pelajaran】Sinopsis: Di ujung timur Pulau Madura, berdiri sebuah pesantren tua yang menjadi cahaya ilmu bagi para pencari hikmah. Wahyu, pemuda yatim dari pelosok desa, datang dengan cita-cita sederhana: menuntut ilmu demi akhirat. Namun hidup di pesantren tak hanya soal menghafal kitab dan berjamaah, tapi juga belajar menata hati. Di tengah dinginnya malam dan sunyinya musholla, Wahyu menemukan makna cinta dari kitab-kitab kuning dan senyum diam seorang santriwati bernama Azizah. Bersama fiqh, nahwu shorof, hadits, dan tafsir, Wahyu menapaki jalan ilmu dan iman yang penuh liku. Apakah cinta bisa tumbuh di tanah yang suci? Atau harus dikorbankan demi adab dan takwa?
All Rights Reserved
#39
kekasihidaman
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Nakula
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Prahara Lamaran [END]
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
  • Kembang Desa
  • Salah Status

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines