Diksi Merindu

Diksi Merindu

  • WpView
    Membaca 9,885
  • WpVote
    Vote 256
  • WpPart
    Bab 26
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Jum, Feb 6, 2026
WpInfo
Puisi
Asmara Anjani enggan jatuh hati, dia membekukan hati nya. Bagi Anjani, dunia tak lagi berpihak, ia hanya hidup karena ia masih hidup. Hari-hari nya sama; bekerja, meneguk teh melati yang tak pernah ia sukai dulu, atau sekedar memandangi indah nya Bogor sore hari. Perkenalan yang dilakukan dengan senior nya di Rumah Sakit, membawa ia berhubungan dengan Ghaalib Tomia. Pemuda milik negara yang tak pernah masuk dalam kriteria hidup nya membawa Anjani menemukan makna bahwa mencintai bukan untuk merendahkan. Ia hanya ketakukan harus ikut handil dalam perang yang selalu dikalahkan perempuan. Dan, akhirnya apakah ia akan menang menjadi perempuan yang berperang dengan mencintai milik negara? "Perjudian terbesar ku adalah mencintai prajurit milik negara."
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#416
prajurit
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Pikul Pilu Pada Pulangmu | ✔
  • kumpulan cerpen kookmin/Jikook (book 2)
  • Unexpected Married  (YUSION/SIYU  GS)
  • အချစ်၏ဟန်ပန်-𝑻𝒉𝒆 𝑺𝒕𝒚𝒍𝒆 𝑶𝒇 𝑳𝒐𝒗𝒆(Complete)
  • poem
  • My Wish
  • Rembulan Yang Sirna
  • My SIN (GXG iam Lesbian)
  • Semua Memukul (✅)

Apa yang sebenarnya manusia inginkan? Apa yang sebenarnya lahir dari kembara tanpa tuju? Menyibak kekosongan, enggan berhenti. Satu dua kali, aku pun melakukannya. "Di mana rumahmu? Apa kamu mengunjunginya akhir-akhir ini?" Semilir mengantar gembiramu pada saat gelisah sejak kemarin menjemputku. Tapak tidak mengambil jeda. Pun bibir bergetar, melengkung pahit. "Tidak. Rumahku tidak dapat aku temukan." Rumahmu mungkin bukan lagi rumah yang hangat. Terlalu terkepul tangis, dusta, dengki, dan segala lara yang dibawa seorang diri. Tanpa kenal lelah meski sebenarnya ingin menyerah. Bersama perasaan-perasaan ini, kamu akan menemukan tempat bersandar. Bersama apa pun yang tertulis di sini, mari temukan kembali dirimu yang mungkin telah lama lupa jalan pulang. *** Seri Dua dari antologi puisi FOUR ©2026

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan