Diksi Merindu

Diksi Merindu

  • WpView
    Reads 8,854
  • WpVote
    Votes 251
  • WpPart
    Parts 26
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Feb 6, 2026
Asmara Anjani enggan jatuh hati, dia membekukan hati nya. Bagi Anjani, dunia tak lagi berpihak, ia hanya hidup karena ia masih hidup. Hari-hari nya sama; bekerja, meneguk teh melati yang tak pernah ia sukai dulu, atau sekedar memandangi indah nya Bogor sore hari. Perkenalan yang dilakukan dengan senior nya di Rumah Sakit, membawa ia berhubungan dengan Ghaalib Tomia. Pemuda milik negara yang tak pernah masuk dalam kriteria hidup nya membawa Anjani menemukan makna bahwa mencintai bukan untuk merendahkan. Ia hanya ketakukan harus ikut handil dalam perang yang selalu dikalahkan perempuan. Dan, akhirnya apakah ia akan menang menjadi perempuan yang berperang dengan mencintai milik negara? "Perjudian terbesar ku adalah mencintai prajurit milik negara."
All Rights Reserved
#418
prajurit
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pikul Pilu Pada Pulangmu
  • Semua Memukul (✅)
  • အချစ်၏ဟန်ပန်-𝑻𝒉𝒆 𝑺𝒕𝒚𝒍𝒆 𝑶𝒇 𝑳𝒐𝒗𝒆(Complete)
  • My SIN (GXG iam Lesbian)
  • aku bukan penyair
  • 365 HARI BERCINTA DENGAN PUISI
  • Rembulan Yang Sirna
  • kumpulan cerpen kookmin/Jikook (book 2)
  • My Wish
  • Unexpected Married  (YUSION/SIYU  GS)

Apa yang sebenarnya manusia inginkan? Apa yang sebenarnya lahir dari kembara tanpa tuju? Menyibak kekosongan, enggan berhenti. Satu dua kali, aku pun melakukannya. "Di mana rumahmu? Apa kamu mengunjunginya akhir-akhir ini?" Semilir mengantar gembiramu pada saat gelisah sejak kemarin menjemputku. Tapak tidak mengambil jeda. Pun bibir bergetar, melengkung pahit. "Tidak. Rumahku tidak dapat aku temukan." Rumahmu mungkin bukan lagi rumah yang hangat. Terlalu terkepul tangis, dusta, dengki, dan segala lara yang dibawa seorang diri. Tanpa kenal lelah meski sebenarnya ingin menyerah. Bersama perasaan-perasaan ini, kamu akan menemukan tempat bersandar. Bersama apa pun yang tertulis di sini, mari temukan kembali dirimu yang mungkin telah lama lupa jalan pulang. *** Seri Dua dari antologi puisi FOUR ©2026

More details
WpActionLinkContent Guidelines