Thalia Amanda Clarissa, adalah seorang gadis berlatar keluarga yang sangat miris kedua orang tua nya sudah tiada sejak dia berusia 8 tahun, miris nya Thalia adalah penyebab dari kematian kedua orang tuanya .
Sejak kematian kedua orang tuanya Thalia dan kakak nya di rawat oleh nenek nya, sang nenek pada awal nya membenci Thalia namun nenek nya sadar, jika membenci Thalia takan membuat putra nya kembali hidup.
Thalia harus banting tulang untuk menghidupi keluarga nya, Kakak nya adalah seorang pengangguran meskipun kakak nya adalah lulusan sarjana, tetapi sang kakak lebih memilih menganggur dan menyiksa Thalia, menurut nya Thalia pantas menderita.
Tak sampai di situ penderitaan Thalia, di sekolah nya dia di pandang rendah oleh orang-orang, Thalia menderita dia ingin mengeluh, dia ingin kembali seperi dulu lagi, tapi sayang itu hanyalah angan-angan belaka Thalia.
_---_---_---_---_---_---_---_---_
" Abang maafin Thalia, maaf karena Thalia abang menjadi menderita, maaf karena Thalia selalu merepotkan abang, dan maaf karena Thalia kita jadi yatim piatu. Satu hal yang harus abang tahu Thalia selalu menyayangi abang, abang adalah kakak terbaik untuk Thalia "
"Stop ikutin aku!!"
Langkah yang semula pelan menjadi tergesa saat Hera melihat Laki-laki di belakangnya yang terus mengikutinya.
"No, Love. I want to make sure you're okay"
"Kita udah putus Je! jangan ganggu aku!"
"I never agreed to it"
Dia Helera Varadisa gadis pintar yang banyak di kenal di sekolahnya dengan ciri khasnya pita biru yang selalu tampil cantik di rambutnya.
Kehidupannya yang awalnya hanya seputar belajar, membaca, dan menulis berubah lebih menyenangkan kala ia bertemu dengan Jerald Van Derico.
Laki-laki yang kehidupannya bertolak belakang dengan Helera, Jerald bukan anak yang terkenal karena kepintarannya ia justru dikenal karena sering membuat keributan dengan teman-temannya.
Meski begitu Hera senang menjalin hubungan dengan Jerald, meski harus dengan keadaan backstreet.
Awalnya semula Hera yakin kisah masa abu-abu nya memang lebih manis setelah mengenal Jerald, sebelum sesuatu terjadi menghancurkan keyakinan Hera.
"Je kamu beneran belum punya pacar kan?"
Jerald yang di beri pertanyaan itu dengan tegas menggeleng sebagai jawaban.
Setelah melihat dengan jelas interaksi Jerald dengan gadis itu Hera menggelengkan kepalanya pelan.
Hera segera pergi dari tempat itu, ia tak ingin membiarkan hatinya lebih lama lagi merasa sakit.