Ketika Maaf Tak Lagi Cukup

Ketika Maaf Tak Lagi Cukup

  • WpView
    Reads 109
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 21, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Awan, tenang, penuh misteri dan sulit ditebak kemana arahnya akan pergi. Aku, Indira, satu-satunya manusia yang ia kira bisa dipercaya. Perempuan yang ia pikir, tidak akan mampu menyakitinya, bahkan jika hanya segores saja. Namun, aku pergi. Meninggalkan Awan dalam kesunyian yang kutahu tak pernah ia inginkan. Menusuknya lebih dalam dari luka yang pernah kusembuhkan. Saat aku kembali, dengan kata yang tak sempat terucap, atau maaf yang datangnya terlambat. Ia memilih diam sebagai balasan. Menyisakan penyesalan yang tak bisa kusembuhkan. Beberapa hal memang tidak pernah benar-benar selesai, atau mungkin tidak perlu diselesaikan. Biarkan ia menggantung di sana sebagai bagian dari perjalanan. Ketika Maaf Tak Lagi Cukup. Maka, lewat bait-bait ini aku menyimpan penyesalan yang tak tersampaikan. Di antara halaman-halaman ini, aku memohon pengampunan, untuk sebuah kedamaian.
All Rights Reserved
#5
pov1
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Transmigrasi Ziora
  • GRAVARENZO
  • The Time
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • GHAIKA (REVISI)
  • Tsundere Maniak Susu
  • I'm Not Just a Figuran
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines