Love, Lattes & Laughter

Love, Lattes & Laughter

  • WpView
    Reads 56
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Feb 23, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Margaretha De Gea adalah gadis 22 tahun berdarah Eropa yang hidupnya nyaris seperti jam Swiss tepat waktu, terencana, dan efisien. Mahasiswi cerdas jurusan hubungan internasional ini lebih akrab dengan buku, jurnal akademik, dan rapat organisasi daripada dengan hal-hal sepele seperti "istirahat", "spontanitas", apalagi "cinta". Baginya, semua harus punya tujuan jelas. Sampai suatu hari, saat hujan memaksanya berteduh di sebuah kafe kecil yang tidak ada dalam daftar "tempat yang layak dikunjungi" miliknya Roasterie & Soul. Di balik meja bar kafe itu, ada Alexander Theodore. Barista berusia 25 tahun yang punya senyum semanis vanilla latte dan cara berpikir seacak busa cappuccino. Hidupnya jauh dari rencana. Ia menjalani hari demi hari dengan prinsip "selama ada kopi dan tawa, semua baik-baik saja." Baginya, hidup tidak harus selalu masuk akal, yang penting terasa hangatseperti secangkir latte buatan tangannya. Pertemuan mereka yang tampak sepele ternyata menjadi awal dari kekacauan kecil dalam hidup Margaretha. Dunia yang ia bangun dengan rapi mulai retak oleh canda receh Alexander, aroma kopi yang anehnya menenangkan, dan perasaan asing yang tumbuh tanpa ia sadari. Sementara itu, Alexander menemukan dalam diri Margaretha sesuatu yang selama ini ia hindarialasan untuk menetap dan merasa cukup. Di antara meja-meja kafe, tumpukan tugas kuliah, dan obrolan-obrolan ringan yang berubah jadi makna, Love, Lattes & Laughter mengajak pembaca menikmati kisah cinta yang tumbuh perlahan namun menghangatkan, seperti kopi di pagi hari. Ini adalah cerita tentang dua orang dengan dunia yang berbeda yang menemukan bahwa terkadang, cinta tidak datang dengan dramatis. Ia datang dengan sederhana, lewat secangkir kopi... dan tawa yang tidak terduga. Disclaimer: Cerita, tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi belaka. Jika terdapat kesamaan nama, latar, atau kejadian dengan dunia nyata, itu adalah kebetulan semata dan tidak disengaja.
All Rights Reserved
#292
coffee
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Prahara Lamaran [END]
  • Nakula
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Salah Status [END]
  • Kembang Desa

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines