🌙Langit dan Doa Yang Tak Selesai

🌙Langit dan Doa Yang Tak Selesai

  • WpView
    Reads 29
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 5, 2025
Dia anak kiai besar. Dibesarkan di pesantren, diapit nasab dan kehormatan. Dia hanya gadis biasa. Penjaga perpustakaan desa yang hidupnya tenang bersama buku dan puisi. Mereka bertemu di tengah keramaian pengajian. Tapi yang tumbuh bukan hanya rasa kagum... melainkan cinta yang tak bisa diucapkan dengan mudah. Bukan karena mereka tak saling mencintai, tapi karena mereka tak tahu jalan mana yang bisa mereka lewati bersama. Saat dunia mulai mempertanyakan, saat garis keturunan dan kehormatan mulai memisahkan, apakah cinta tetap bisa diperjuangkan? > "Jika kau tak tahu jalan mana yang harus ditempuh, biar aku yang datang menjemputmu - walau harus menabrak rambu-rambu."
All Rights Reserved
#12
muslimstory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Nakula
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Salah Status
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Kembang Desa
  • Prahara Lamaran [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines