Setelah Janur Gugur

Setelah Janur Gugur

  • WpView
    Reads 49
  • WpVote
    Votes 17
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureComplete Sun, Jul 20, 202517m
Hari Pernikahan adalah hari yang sangat di nantikan semua orang. Dimana seluruh kebahagian dan juga keceriaan termasuk di dalam nya. Bagaimana sebelum hari H, pengantin pria nya meninggalkan calon istrinya untuk selama nya. Rangkaian cinta, kasih sayang dan juga rancangan hidup telah pupus begitu saja. "Kamu harus terima, dia jadi calon mu!" "Besok banyak orang berdatangan. Kalau pernikahan ini gagal, di mana letak harga diri kita hah!" "AKU ENGGA MAU! Walaupun Asher udah engga ada lagi, Aku tetap engga mau nikah sama siapapun itu!" "Kamu harus menerimanya, Zoe Callysta!" Yuk yang kepo dengan alur nya, komen dan vote ya!!!! Rating : 🏅4 Pengganti (15 juli 2025/21:03) 🥈2 pengganti (23 juli 2025/21:56) 🥇1 Pengganti (02 Agustus 2025/21:23)
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nyanyian Sunyi Sang Sundayana
  • Dia Selamat, Tapi Kenapa Dia Tak Datang Cari Aku?
  • The Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (COMPLETE)
  • Di sebalik layar
  • IVAN QIDRAN
  • 𝐇𝐈𝐒 𝐒𝐏𝐄𝐂𝐈𝐀𝐋 𝐎𝐍𝐄 ✓
  • Gemintang

Di tanah Kawali yang berembun, lahirlah seorang putri yang ditakdirkan bukan untuk dirinya sendiri. Dyah Pitaloka Citraresmi, sekar Sunda dari istana Galuh, tumbuh di bawah kasih ibunda dan kebijaksanaan ayahandanya, Prabu Linggabuana. Ketika surat pinangan dari Majapahit datang, dunia berubah. Di balik nama besar Hayam Wuruk dan bayangan Gajah Mada, cinta berubah menjadi medan kehormatan. Dari Sungai Cikawali yang bening hingga tanah Bubat yang merah, langkah Pitaloka menjadi jembatan antara cinta dan martabat. Ia bukan sekadar putri-ia adalah nyanyian yang lahir dari air mata, doa, dan darah bangsanya. Nyanyian Sunyi Sang Sundayana adalah kisah tentang cinta yang patah sebelum sempat berbunga, tentang kehormatan yang dijaga sampai napas terakhir, dan tentang nyanyian abadi dari tanah Sunda yang tak pernah berhenti meratap sejak hari darah itu di Bubat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines