After Me, Before Her [END]

After Me, Before Her [END]

  • WpView
    Reads 27
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Wed, Jun 24, 2026
AFTER ME, BEFORE HER "Ada beberapa orang yang datang bukan untuk tinggal, melainkan untuk mengajarkan bahwa tidak semua perasaan harus memiliki tempat untuk pulang." Areum pernah berpikir bahwa waktu akan berpihak pada orang yang sabar. Bahwa perasaan yang dijaga dengan baik suatu hari akan menemukan jalannya sendiri. Namun, hidup tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan. Ada percakapan yang tidak pernah terjadi, ada pertanyaan yang dibiarkan tanpa jawaban, dan ada seseorang yang perlahan belajar menerima bahwa dirinya tidak pernah menjadi bagian dari cerita yang ia harapkan. After Me, Before Her adalah sebuah one shot tentang cinta yang datang terlalu diam, kehilangan yang tidak pernah diberi nama, dan seseorang yang berusaha berdamai dengan masa lalu yang masih sesekali mengetuk pintu ingatannya. Sebab terkadang, yang tersisa setelah semua perasaan itu berlalu hanyalah kenangan dan keberanian untuk melanjutkan hidup. Original Story By : VVIPPIV🌷 ────୨ৎ────
All Rights Reserved
#249
melancholy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • Swaraning Tirta
  • University of Life: MUN
  • Senja Dalam Ingatan [Completed] [Sudah Terbit]
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Jejak di Langit dan Lautan [END]
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Almost Married (END)
  • KEBACUT TRESNA (BL)

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines