Nayara

Nayara

  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 7, 2025
-----------------------------🎞˚₊·͟͟͟͟͟͟͞͞͞͞͞͞➳❥ೃ࿔₊• > ada hal-hal yang nggak pernah diucapkan-bukan karena gak penting, tapi karena terlalu dalam untuk dibicarakan. nayara duduk di bangku dekat jendela. setiap hari, membuka buku yang sama. menulis hal yang nggak pernah dibaca siapa pun. lalu, satu per satu mulai berubah: bangku kosong di sebelahnya, coretan di bawah kursi, pita yang hilang dari rambut sahabatnya, dan catatan lama dari seseorang yang tak lagi muncul. di dunia yang terlalu bising, sunyi adalah tempat paling jujur untuk bicara. dan lewat halaman-halaman yang belum selesai, nayara perlahan menemukan arah-bukan menuju orang lain, tapi menuju versi dirinya yang belum pernah dilihat siapa pun. cerita ini bukan soal kehilangan, bukan juga soal pertemuan. ini tentang diam yang membentuk langkah. tentang suara-suara yang hanya bisa terdengar oleh mereka yang gak buru-buru mengerti. cerita ini ditulis untuk kamu yang suka diam-diam mengamati. yang pernah duduk sendiri di kelas penuh suara, yang tahu... gak semua rasa harus dinamai. tidak terburu-buru. tidak heboh. tapi perlahan menembus lapisan-lapisan dalam yang kadang gak kamu sadari. setiap bab menyimpan tanda. setiap benda bicara lewat sunyi. dan setiap halaman... bukan cuma ditulis, tapi dirasa.
All Rights Reserved
#315
ceritakehidupan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • EVANESCENT
  • Tsundere Maniak Susu
  • Blueprint Pelarian Villain
  • GHAIKA (REVISI)
  • Transmigrasi Ziora
  • The Time
  • GRAVARENZO
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • I'm Not Just a Figuran

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines