We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Balkon Bunga dan Aku

Balkon Bunga dan Aku

  • WpView
    Reads 2,019
  • WpVote
    Votes 1,127
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 10, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Penjual Bunga × Mahasiswi Fashion?? Setiap sore, Selia Arunika Maheswari atau yang akrab di pangil Liaa oleh teman temannya selalu memesan satu buket bunga di toko kecil depan apartemennya. Bukan untuk dirinya, tapi untuk sahabatnya. Raka, sahabatnya sejak awal kuliah, selalu menyuruhnya membelikan bunga, katanya untuk "orang penting". Selia menurut, seperti biasa. Ia tak pernah bertanya lebih jauh, karena di dalam diam, ia menyimpan perasaan yang belum pernah ia ucapkan. Noel Aksara Dirgantara, pemilik toko bunga itu, awalnya hanya menyebut nama Selia sebagai pelanggan setia. Tapi makin lama, ia mulai hafal jenis bunga yang dipesan, warna yang dipilih, bahkan waktu Selia datang. Ia mulai menyapanya. Menanyakan kabar. Dan perlahan-lahan, sesuatu yang lain tumbuh di antara buket bunga dan nota pesanan. Selia tidak tahu, bunga-bunga yang ia beli setiap hari... bukan untuknya. Ia hanya perantara, tanpa sadar sedang membantu sahabatnya memberikan hatinya pada orang lain. Tapi mungkin, di balik setiap bunga yang tidak pernah ditujukan padanya, ada seseorang lain yang diam-diam... menaruh perhatian padanya.
All Rights Reserved
#127
greenflag
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Nakula
  • Salah Status
  • Prahara Lamaran [END]
  • Kembang Desa
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Hello Mr. Komrad (Complete)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines