What If

What If

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 14, 2025
Nara dan Arga sudah saling kenal sejak kuliah semester pertama. Hubungan mereka begitu dekat: pergi bareng, saling mengabari setiap hari, saling hadir saat yang satu butuh tempat pulang. Tapi tak pernah ada satu kata pun yang mendefinisikan hubungan itu. Orang-orang menganggap mereka sepasang kekasih. Tapi bagi Nara, hubungan ini seperti berjalan di atas tali tipis-penuh harapan, tapi juga ragu. Kadang Arga membuatnya merasa istimewa, lalu di hari lain seperti tak berarti apa-apa. Setiap malam, Nara duduk di balkon kamarnya, memutar lagu "what are we", dan membiarkan liriknya memantul di pikirannya: "Do you like me? Do you not? I don't know where we are... what are we?" Perlahan, kebingungan itu berubah menjadi kelelahan. Nara mulai bertanya-pada dirinya sendiri dan akhirnya pada Arga. Tapi jawaban Arga hanya diam. Tak ada kepastian, tak ada penolakan. Hanya... tetap seperti ini. Saat Nara memutuskan menjauh demi menyembuhkan dirinya sendiri, Arga akhirnya menyadari apa yang ia takut akui: bahwa ia kehilangan sesuatu yang tak pernah ia berani perjuangkan. Tapi mungkin sudah terlambat.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Time
  • GRAVARENZO
  • I'm Not Just a Figuran
  • EVANESCENT
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Tsundere Maniak Susu
  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • GHAIKA (REVISI)
  • Transmigrasi Ziora
  • Blueprint Pelarian Villain
The Time

Tiga tahun Jeselyn Ananta menghabiskan waktunya mengejar bayang-bayang tunangan nya, Leon Gamalio. Baginya, Leon adalah segalanya. Namun, malam itu mengubah segalanya. Hantaman keras sebuah truk di persimpangan jalan gelap membuat nya berada di ambang maut, dalam koma yang panjang, jiwa Jeselyn melayang masuk ke sebuah masa depan yang tak pernah ia bayangkan. Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih dewasa, lebih rapuh, dan hancur di tengah kemewahan sebuah rumah megah. "Mau ke mana lagi?" tanya Jeselyn masa depan dengan suara serak akibat tangis. "Menemani wanita yang sedang mengandung anakku," jawab Leon dingin, tanpa sedikit pun menoleh. Kenyataan pahit itu menghujam jantung Jeselyn. Pernikahan yang ia impikan ternyata hanyalah penjara tanpa cinta.

More details
WpActionLinkContent Guidelines