Denting yang Kembali

Denting yang Kembali

  • WpView
    Reads 15,335
  • WpVote
    Votes 750
  • WpPart
    Parts 27
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 15, 2025
Hujan selalu punya caranya sendiri untuk memanggil kenangan pulang. Bagi Pradipta Rony Parulian, denting hujan di kaca mobil sore itu membawanya kembali ke bangku sekolah - ke nama yang dulu hanya bisa ia tulis diam-diam di buku sketsanya: Salmaira Elvaine. Sepuluh tahun berlalu. Pradipta tumbuh jadi arsitek yang tenang dan mapan, terikat adat Batak yang menjunjung nama keluarga. Salma justru berlari ke panggung - membebaskan rindu dan cerita lama lewat lagu-lagunya. Mereka dipertemukan lagi, bukan oleh takdir manis, tapi oleh perjodohan keluarga yang kaku. Di satu sisi, adat meminta mereka taat. Di sisi lain, hati mereka memanggil lagi rasa yang dulu tertinggal. Namun hidup tak lagi sesederhana barisan bangku SMP. Ada mimpi yang harus diperjuangkan, panggung yang harus dihidupkan, dan keluarga yang harus dihormati. Apakah denting yang kembali akan jadi lagu yang utuh? Atau hanya bait lama yang dipaksa selesai oleh tradisi?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Prahara Lamaran [END]
  • Nakula
  • Salah Status
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Kembang Desa (Hiatus)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines