Ini kisah tentang Dikta, seorang lelaki yang tak pernah berhenti memperjuangkan cinta masa kecilnya, Arunika. Dikta mengenal Arunika saat pertama kali ia menginjakkan kakinya di kota Karawang, sebuah kota yang tertulis pada lembar sajak Khairil Anwar. Dikta tak menyangka, gadis yang ia pergoki melongok, mencuri diam-diam pelajaran Matematika yang disampaikan gurunya menjadi gadis yang ia kagumi. Dikta jatuh cinta pada gadis itu. Arunika berasal dari keluarga yang kurang beruntung. Di usia yang teramat belia, Arunika sudah menjadi tulang punggung keluarganya. Arunika harus memulung barang bekas untuk menghidupi ayahnya yang pemabuk serta dua adik laki-lakinya. Ibunya yang sudah beberapa tahun bekerja di Arab Saudi, tidak pernah memberinya kabar, apalagi uang.
Masa kecil Dikta menjadi lebih indah setelah mengenal Arunika, hari-harinya diisi dengan bermain dan belajar bersama Arunika di sela-sela pekerjaan memulungnya. Dikta mengajari Arunika membaca, menulis dan berhitung. Awalnya semua berjalan mulus, sampai suatu ketika orangtua Dikta mengetahui kalau ia bersahabat dengan seorang gadis pemulung. Mereka melarang keras Dikta untuk berhubungan dan bertemu dengan Arunika. Namun, Dikta tidak menyerah, ia sudah berjanji untuk terus menjaga Arunika,sampai ia bisa melihat Arunika menjadi gadis yang pintar dan sukses. Janji itu adalah janji yang ia pegang teguh sampai ia dewasa dan sekarang, mencari Arunika adalah bagian dari janjinya.
Hingga suatu waktu, takdir mempertemukan mereka kembali, tepat saat Dikta hampir membuka hatinya untuk Zahra. Arunika datang secara tidak sengaja di Bali, tempat pertunangan Dikta dan Zahra akan digelar. Dikta pun bimbang, antara melanjutkan pertunangannya dengan Zahra, atau mempertahankan cinta pertamanya, Arunika.
Usai menjalani pendidikan strata 1 di Ibu Kota, Adara Ruby Sanjaya (22), gadis centil nan cantik yang sering dipanggil dengan sebutan Dara diminta kembali oleh orang tuanya yang berada di desa. Menuruti adalah jalan terakhir yang harus di lakukan Dara. Dara pikir pulang ke kampung halamannya adalah pilihan yang sangat buruk, tetapi disana ia menemukan sesuatu yang sayang untuk dilewatkan.
~~~
Menjadi harapan satu-satu orang tua yang harus terjun ke dunia perdagangan, adalah takdir Biantara Pradikta (32), Bian yang merupakan anak laki-laki dari juragan tersohor se Kecamatan. Mempunyai adik perempuan yang masih berada di bangku menengah keatas, itulah alasan Bian tidak melanjutkan pendidikan paska lulus SMA. Memiliki sifat yang cuek dan tidak terlalu memikirkan tentang perempuan, padahal ibunya sering menyodorkan anak temannya untuk ia kencani, tetapi ia acuh tak acuh dengan itu. Sampai hadir seorang gadis jelita yang merupakan anak dari pengusaha beras di desanya, gadis yang menjadi buah bibir para tetangga, bukan hanya prestasi yang jarang orang dapat dikehidupan mereka, tetapi juga parasnya yang membuat para tetangga rela menyodorkan anak lelakinya pada gadis itu. Tetapi, mengapa Bian tidak menyukai itu!
Cerita keseharian gadis incaran para pria dan calon menantu idaman ibu-ibu desa.