anak perempuan dan lukanya

anak perempuan dan lukanya

  • WpView
    Reads 18
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 13, 2025
WpInfo
Non-Fiction
menceritakan tentang seorang anak yang mendapatkan luka dari kedua orang tua nya sedari kecil, ntah itu pilkas, kekerasan, bentakan, atau bahkan cacian/makian, dan saat dia menginjakan kakinya di kelas 8 ia di diagnosis leukemia atau kanker darah stadium menengah, dia bingung dengan penyakit yg di deritanya bahkan di saat dia menderita kanker darah stadium menengah orang tuanya pun tidak peduli sama sekali. "mama, ayah tolong perhatikan aku , aku juga anakmu bukan hanya cella saja tetapi aku juga" - reyna anastasya "tuhan aku lelah, bolehkah aku pulang ke pelukan mu?" - reyna anastasya KISAH INI DI AMBIL DARI KISAH NYATA!!!!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "Beneath Her Forbidden Touch"[END]
  • Chana's Transmigrasi
  • karakter kecil ini mengasuh keluarga iblis?! {S2}
  • Change The Plot (Niel) ✓
  • BACKSTREET
  • REGAN's Crazy Wife (END)
  • Mission
  • Drama di Pintu Kosan

Elara Vionette tidak pernah mempertanyakan pekerjaan ibunya. Baginya, Livia Asteria hanyalah seorang pelayan yang pulang setiap malam dengan tubuh lelah dan senyum lembut. Sampai suatu hari, ibunya jatuh sakit. Dan Elara diminta menggantikannya. Rumah itu besar. Terlalu besar untuk menyimpan rahasia sekecil apa pun. Pernikahan sang nyonya dan suaminya hanyalah kontrak tanpa cinta. Lorong-lorongnya dipenuhi keheningan. Dan di balik pintu hitam dengan gagang emas itu... ada sesuatu yang tak pernah Elara bayangkan. Valeria Devianne tidak pernah tertarik pada siapa pun. Dingin. Tinggi. Elegan. Tak tersentuh. Sampai ia melihat putri pelayannya. Apa yang awalnya hanya rasa ingin tahu... berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Lebih gelap. Lebih berbahaya. Karena beberapa rasa lapar tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya menunggu untuk diwariskan. Dan Elara tidak tahu... bahwa malam pertama ia mengetuk pintu itu, ia sedang melangkah masuk ke dalam kelaparan yang bukan miliknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines