Pangeran Masjid

Pangeran Masjid

  • WpView
    Leituras 91
  • WpVote
    Votos 1
  • WpPart
    Capítulos 4
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização ter, jul 22, 2025
"Cucu yang punya pondok mah enak," . . . . Menjadi cucu satu-satunya dari pemilik tempat dirinya menimba ilmu membuat Syarifah harus menerima berbagai respon. Bakatnya yang tak diakui dan pencapaiannya yang tak diapresiasi para santri di pesantrennya lantaran gadis itu berasal dari keluarga agamis. Aba-nya petinggi pesantren dan Umma-nya adalah ketua pembimbing tahfiz, itu membuat sebagian besar santri memandangnya sebagai santri yang dianggap berprestasi karena pangkat orang tuanya. Di sisi yang berbeda, seorang santri lain yang juga menorehkan banyak prestasi menjadi primadona, yang diidam-idamkan para santriwati. Al-Munawwar Habiburrahman, pemuda yang memiliki karakter abu-abu. "Bunga Lily of The Valley itu adalah bentuk dari kerendahan hati. Kamu tidak pernah berpikir untuk menyombongkan kedudukan orang tuamu. Bakat yang kamu punya dan prestasi yang sudah kamu torehkan adalah hasil dari usahamu, jangan merasa rendah diri." "Tapi, mereka-" "Saat kamu jatuh, jangan ragu untuk memulai dari awal. Kamu suka bunga Lily kan? Kalau begitu baca maknanya lebih dalam." Note : rombak dari novel "Pangeran Masjid" yang lama.
Todos os Direitos Reservados
#86
masjid
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • GHAIKA (REVISI)
  • EVANESCENT
  • The Time
  • Transmigrasi Ziora
  • I'm Not Just a Figuran
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Blueprint Pelarian Villain
  • Tsundere Maniak Susu
  • GRAVARENZO

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo