WHEN FATE CHANGED ITS MIND
19 parts Ongoing Prolog
"When Fate Changed Its Mind"
by Deby Purnama Sari
Setiap kali aku suka sama cowok, selalu aja ada halangan.
Kadang di-ghosting, kadang cuma jadi cadangan, bahkan pernah juga jadi backburner. Intinya, nggak pernah berhasil.
Lucunya, perasaan itu sering datang ke cowok-cowok yang ternyata... satu circle.
Kebayang nggak sih awkward-nya?
Tapi semua itu nggak pernah benar-benar jadi cinta serius.
Aku terlalu pemalu buat ngomong duluan, terlalu minder buat yakin, dan terlalu sering denial kalau sebenarnya aku suka. Selalu aku yakinin diri sendiri, "Ah, aku kan masih kecil, belum waktunya pacaran."
Sampai suatu hari, ada seseorang yang beda.
Seorang kakak kelas. Teman dekat bibiku sendiri-padahal usia mereka cuma beda dua tahun. Dia perhatian dengan cara yang nggak biasa. Bikin aku bertanya-tanya:
r "Dek, kamu nggak pulang bareng? Nanti sendirian loh."
Aku menggeleng cepat, pura-pura sibuk merapikan buku.
"Nggak usah, Kak. Aku bisa sendiri."
Dia tersenyum tipis. "Kamu tuh kebanyakan bilang bisa, padahal nggak semuanya harus kamu lakuin sendirian."
Aku terdiam.
Entah kenapa, kata-katanya nyangkut di kepala.
Dan saat itu juga aku sadar-mungkin kali ini, takdir memang sedang berubah pikiran.