Di bawah kaki manusia, di antara sisa-sisa nasi basi, remah gorengan dalam kantong plastik dan genangan sabun murahan, hiduplah sebuah bangsa yang tak pernah masuk peta: Negeri Sampah. Negeri ini tak mengenal langit biru, apalagi pelangi.
Cahaya yang mereka kenal hanyalah remang neon dari dapur kos murahan, dan suara harian mereka bukanlah kicauan burung, melainkan denting sendok jatuh dan gemeretak sandal kamar mandi.
Di sanalah para kecoak hidup berlari, bersembunyi, dan bermimpi. Ya, mereka bermimpi.
Jangan salah, meski bentuk mereka menjijikkan bagi manusia, mereka punya cita-cita, punya demokrasi (yang mirip lotre), punya sistem pemilu (yang bisa dibeli), dan tentu saja punya pemimpin yang lebih lihai dalam mengelabui rakyat dibanding banyak politisi manusia.
Kita menyebut mereka hama. Mereka menyebut diri mereka "penjaga sisa peradaban." Karena di saat manusia menumpuk dosa ekologisnya, para kecoaklah yang menyapu, mengais, dan melanjutkan kehidupan dari sisa-sisa kehancuran itu.
Namun, bahkan di antara debu dan bangkai, perebutan kekuasaan tetap berlangsung. Para kecoak punya pemilu. Mereka punya janji-janji kosong. Mereka punya slogan yang gemerlap meski tubuh mereka tetap kusam. Dan tahun ini, pemilu itu kembali datang.
Surip, kecoak veteran bertubuh buntel dan bekas luka gigitan tokek, mencalonkan diri. Ia menggandeng Sugibran, si anak pejabat lama yang dikenal lebih jago Mobile Legends daripada merancang kebijakan.
Di negeri manusia, kita menyebutnya demokrasi. Di Negeri Sampah, mereka menyebutnya Huruhara.
Ini bukan kisah tentang kecoak semata. Ini kisah tentang kita dalam bentuk yang lebih jujur, lebih lucu, dan mungkin... lebih jahat.
All Rights Reserved