
Mereka menyebutnya guru. Aku menyebutnya mimpi buruk bersorban. Dia bicara soal Tuhan, tapi menyentuhku seolah aku bukan manusia. He looked like a teacher, but his hands taught me fear. Dia hidup bebas, dihormati. Sementara aku tumbuh dengan tubuh yang mengingat segalanya. Ini kisah yang dia ingin kubungkam. Tapi sekarang... aku bersuara.All Rights Reserved
1 part