Kala semesta memainkan takdirnya, tidak ada yang mampu menghindarinya. Sore itu, kala kakiku melangkah menyusuri jalan yang berdebu, suara menyakitkan dari seberang telefon membuat seluruh aliran darahku seakan membeku. Suara tangisan dari si kecil, suara bergetar dari abang, juga suara yang menyatakan bahwa aku harus kehilangan nakhodaku bersama pujaan hatinya. Sejak saat itu, aku lupa bagaimana caranya pulang. Aku lupa bagaimana rasanya rumah yang hangat, rumah yang ada ayah dan bunda di dalamnya. Sakitku tidak ada penawarnya, serta rinduku tidak lagi menemui temu pada ayah dan bundaku.
More details