Bumi Wigara

Bumi Wigara

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 10, 2025
Bumi Wigara. Atau Gara. Atau apapun lah orang mau panggil dia. Dia udah gak peduli. Asal bukan nama-nama sampah yang biasa dilempar waktu orang mau menjatuhkan dia. Bumi bukan tokoh utama cerita bahagia. Dia bukan pahlawan, bukan korban, bukan siapa-siapa. Dia cuma... pecahan. Dari keluarga yang remuk. Dari masa kecil yang busuk. Dari orang-orang yang dulu datang cuma buat ninggalin bekas luka. Dia tumbuh dengan teriakan. Tumbuh dengan rasa gak cukup. Tumbuh dengan marah. Dan satu-satunya cara dia buat tetap hidup... ya dengan marah juga. "HIDUP GUE, HIDUP GUE! LU SEBAGAI HEWAN MENGONGONG SEBAIKNYA DIEM!" "GUE REMUK MUKA LU SAMPE ANCUR TAI!" Tak ada satu orang pun yang berani dengan pria satu ini. Kata-katanya kasar, tanpa filter, dan gak bisa direm. Dia ngomong apa yang dia mau. Gak peduli siapa lawan bicaranya. Selama dia merasa benar, dia akan buka suara-keras dan lantang-tanpa rasa takut. Setiap orang yang deket sama dia, pasti ngerasain panasnya. Termasuk Ryan Bimantra-satu-satunya orang yang masih bertahan, walau Bumi terus nyakitin. Tapi sampai kapan orang kayak Ryan bisa bertahan? Dan sampai kapan Bumi bisa pura-pura kuat? Ketika masa lalu yang udah dikubur mulai muncul lagi, Bumi harus memilih: terus jadi binatang buas yang nyakitin semua orang, atau ngaku kalau dia juga butuh diselamatkan. Masalahnya... Bumi gak percaya lagi sama kata "selamat." ⚠️ WARNING! ⚠️ Cerita ini mengandung: Bahasa kasar dan umpatan Emosi tidak stabil Kekerasan verbal Luka batin dan trauma keluarga Isu kesehatan mental Adegan kasar dan menyakitkan Tokoh yang tidak selalu rasional atau baik Tidak disarankan untuk pembaca di bawah umur atau yang sensitif terhadap isu-isu di atas. Baca dengan bijak. Kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri.
All Rights Reserved
#71
ceritasekolah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • The Time
  • I'm Not Just a Figuran
  • Blueprint Pelarian Villain
  • Transmigrasi Ziora
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • GRAVARENZO
  • GHAIKA (REVISI)
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Tsundere Maniak Susu

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines