Kaluna terbiasa hidup dalam dunia yang perlahan kehilangan warnanya. Sejak kepergian ibunya, keluarganya runtuh, hutang menjerat, dan ayahnya yang dulu menjadi rumah kini justru menjadi sumber luka yang tak pernah selesai. Ia belajar bertahan-bukan karena kuat, tapi karena tidak punya pilihan lain selain terus berjalan.
Arka hidup dengan cara yang berbeda. Di balik reputasinya sebagai remaja yang nakal dan sulit diatur, ia adalah seseorang yang menyimpan kehilangan terlalu dalam. Ayahnya sudah tiada, meninggalkan ruang kosong yang tidak pernah benar-benar bisa diisi, bahkan oleh ibu dan adik perempuannya yang ia sayangi lebih dari dirinya sendiri. Ia menutupi semuanya dengan amarah, tawa, dan keberanian yang sering disalahpahami.
Mereka seharusnya tidak pernah saling terhubung.
Kaluna adalah diam yang rapuh.
Arka adalah badai yang berisik.
Namun setiap kali mereka bertemu, dunia seolah berhenti di antara dua hal yang bertolak belakang: luka yang tak terucap dan emosi yang tak terkendali.
Yang satu ingin melupakan masa lalu.
Yang satu tidak pernah benar-benar bisa lepas darinya.
Di antara hujan yang tenang dan lautan yang tak berdasar, mereka menemukan bahwa beberapa perasaan tidak pernah benar-benar hilang-ia hanya tenggelam lebih dalam, menunggu untuk diingat kembali.
Dan ketika kebenaran tentang keluarga, kehilangan, dan rasa bersalah mulai terungkap, mereka harus memilih: terus saling menjauh... atau menghadapi bahwa satu-satunya tempat pulang mungkin adalah di luka satu sama lain.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang