12 chapitres En cours d'écriture Mereka datang dari latar yang berbeda, membawa sikap, cara pandang, dan jarak masing-masing. Tidak ada niat untuk menjadi dekat, apalagi bersatu.
Namun, di balik rutinitas sekolah, ada sistem senioritas kelas dua belas yang menekan tanpa suara. Bukan sekadar ejekan atau kekerasan terang-terangan, melainkan permainan kuasa yang dibiarkan tumbuh, menundukkan yang lebih muda pelan-pelan. Satu per satu, batas dilanggar, dan diam menjadi kebiasaan.
Ketika keadaan memaksa mereka berada di sisi yang sama, keempatnya tidak disatukan oleh rasa percaya, melainkan oleh kebutuhan untuk bertahan. Tidak ada janji persahabatan, hanya kesepakatan diam-diam: mereka tidak akan tunduk begitu saja.
Langkah mereka canggung, strategi lahir dari kesalahan, dan kemenangan tidak datang dalam satu malam. Tapi perlahan, keseimbangan bergeser. Apa yang awalnya bertahan, berubah menjadi pengaruh. Yang tadinya ditekan, mulai menentukan arah.
Di sekolah itu, tanpa pernah mendeklarasikan diri sebagai kelompok, empat sosok ini akhirnya menjadi kekuatan baru, bukan karena mereka paling kuat, tetapi karena mereka berhenti berdiri sendiri.