51 chapitres En cours d'écriture Di koridor SMA Nusantara, nama Benjamin Moore bukan sekadar nama, ia adalah sinonim dari kesunyian yang mengancam. Seperti langit Bandung di penghujung tahun yang selalu mendung namun jarang menumpahkan hujan, Benji adalah misteri yang dibungkus dengan seragam rapi dan tutur kata seajam sembilu.
Sebagai Ketua OSIS, ia memerintah dengan logika yang dingin, menghujam mental para pembangkang hanya dengan satu atau dua patah kata yang mampu membuat nyali menciut.
Tak ada yang tahu mengapa matanya yang sebiru samudera itu selalu memancarkan badai yang tertahan, atau mengapa genggaman tangannya pada pagar sekolah selalu menyisakan buku-buku jari yang memutih.
Dunia Benji adalah sebuah labirin tembok tinggi yang tak tertembus, setidaknya sampai ia bertemu dengan Namilo Wilson.
Milo hadir layaknya aroma kopi dari kafe klasik di pinggiran kota hangat, sederhana, dan menenangkan. Ia adalah anomali di mata Benji, seorang adik kelas yang tersenyum hingga matanya membentuk garis bulan sabit, yang menyapa dunia dengan kelembutan meski ia memiliki keberanian untuk berdiri tegak di hadapan sang predator sekolah. Milo tidak takut pada tajamnya lidah Benji. Baginya, Benji bukanlah seekor anjing yang galak, melainkan sebuah melodi yang sumbang dan butuh diselaraskan.
Namun, semakin Milo mencoba mendekat, semakin ia menyadari bahwa di balik kemarahan Benji yang meledak-ledak, tersimpan sebuah kehampaan yang besar, seperti sebuah rumah megah yang lampu-lampunya padam sejak lama.
Ini bukan sekadar tentang cinta remaja yang bersemi di antara buku pelajaran. Ini adalah tarian antara luka yang disembunyikan dan penyembuhan yang dipaksakan. Ini adalah tentang mencari tahu, mengapa seorang anak manusia begitu membenci kasih sayang ketika ia sendiri adalah produk dari kehampaan yang tak bertepi.