Hari-Hari Patah

Hari-Hari Patah

  • WpView
    Reads 474
  • WpVote
    Votes 56
  • WpPart
    Parts 23
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 22, 2026
Hari-hari penuh patah hati yang dirasakan oleh Rome, Kaima dan Soraya. Sejak awal mereka sudah tahu kalau ini semua akan berujung dengan patah hati, tapi mereka memilih untuk merasakannya. Harapannya akan ada perasaan yang berubah. Nyatanya hari-hari patah itu akhirnya tiba dan tak ada yang selamat di antara mereka. *** Soraya itu pacarnya dan Kaima itu temannya, Rome menyukai keduanya dengan perasaan yang berbeda. Rome sempat ragu menerima ajakan pacaran dari Soraya karena selama ini dia memendam perasaan suka terhadap Kaima. Namun karena Kaima menyukai Baris dan perasaannya bertepuk sebelah tangan, membuat Rome akhirnya menerima ajakan Soraya untuk pacaran. Satu tahun berpacaran dengan Soraya, Rome pikir sudah bisa membuat perasaannya berubah. Nyatanya dia masih menyukai Kaima begitu besarnya. Hanya saja Rome masih tidak rela untuk melepas Soraya. Apakah ini pertanda bahwa dia sesungguhnya sudah menyukai Soraya lebih besar dari Kaima? Tapi, Kaima bilang dia akan menyerah akan perasaannya terhadap Baris. Apakah ini kesempatannya untuk membuat Kaima menyukainya?
All Rights Reserved
#1
semarang
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • The Villain Mother
  • Pawang Hantu Om Aktor
  • Hello, KKN!
  • My Celestia [ON GOING]
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Be My Wife
  • The Last Yes!
  • Kedhaton Soeraandaru Hadiningrat

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines