Bagaimana jika cinta yang kamu pikir telah berakhir... diam-diam menunggu untuk kembali?
Raka, seorang fotografer jalanan, hidup dengan kenangan yang diam-diam mengendap di balik jepretan lensanya. Salma, editor buku yang telah bertunangan, berusaha membangun masa depan meski hatinya masih dihantui masa lalu. Mereka terpisah oleh waktu selama delapan tahun-tanpa kata perpisahan yang layak, tanpa penjelasan yang memadai.
Sebuah pameran foto mempertemukan mereka kembali. Dalam tatap yang sempat mati, dua jiwa yang pernah saling memiliki menemukan bahwa luka lama belum sepenuhnya kering. Percakapan demi percakapan membuka kembali ruang-ruang yang dulu pernah mereka tutup. Tapi cinta kedua tak pernah semudah jatuh cinta pertama.
Mereka harus memilih: mengorbankan yang kini demi yang pernah, atau membiarkan kenangan tetap menjadi kenangan?
Kala yang Tertinggal adalah kisah tentang kehilangan, waktu yang terlambat, dan keberanian untuk kembali-bukan ke masa lalu, tapi ke rasa yang tak pernah benar-benar pergi. Ini bukan hanya cerita cinta, tapi juga tentang bagaimana dua orang menyembuhkan diri di dalam pelukan satu sama lain, meski sempat tersesat oleh kehidupan.
Tanpa bicara sepatah kata pun, Axel berjalan menuju ranjang. Dia duduk di tepi kasur, memunggungi Lucia, lalu mulai melepas sepatunya.
Lucia gemetar hebat. Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus membantunya? Atau diam saja?
Axel menoleh ke samping, menatap Lucia yang sedang memeluk lututnya sendiri seperti landak ketakutan.
"Kenapa kau duduk di situ seperti patung?" tanya Axel, suaranya serak dan dalam.
"S-saya... menunggu instruksi, Tuan," cicit Lucia.
Axel mendengus. Dia berbaring telentang di kasur, mengambil tempat yang luas, menyisakan sedikit ruang untuk Lucia. Dia menatap langit-langit kamar yang tinggi.
"Berbaring," perintah Axel.