SOLUNA (GxG)

SOLUNA (GxG)

  • WpView
    LECTURAS 97
  • WpVote
    Votos 6
  • WpPart
    Partes 5
WpMetadataReadContenido adultoConcluida dom, ago 10, 2025
Di dunia yang terancam oleh kehancuran abadi, dua kekuatan kuno terbangun: satu lahir dari nyala matahari, satu lagi dari bisikan bulan. Mereka tidak ditakdirkan untuk bertemu. Namun, ketika kegelapan bangkit dari kedalaman bumi, takdir mempertemukan mereka-bukan sebagai musuh, tetapi sebagai penyelamat. Dengan dunia yang terbelah, dan harapan yang nyaris padam, mereka harus memilih: memenuhi takdir yang mengikat mereka sebagai penyelamat... atau melawan segalanya demi cinta yang seharusnya tak pernah ada. *ps: seluruh tokoh, peristiwa, dan latar dalam novel ini hanyalah hasil imajinasi penulis. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, atau kejadian dengan dunia nyata, itu semata-mata kebetulan dan tidak disengaja.*
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • The Villain Mother
  • Kedhaton Soeraandaru Hadiningrat
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Hello, KKN!
  • The Last Yes!
  • My Celestia [ON GOING]
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Nala dan Mas Juragan
  • Be My Wife
  • Pawang Hantu Om Aktor

HAPPY READING ❤️‍🔥 Nama Thania digunakan untuk interaksi luar/fisik, sedangkan nama Zeva digunakan untuk kesadaran/jiwa aslinya di dalam hati. Ini sengaja saya bedakan agar konflik batinnya lebih terasa. Selamat membaca!" --- "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido