Di balik sorot mata tenang dan tutur katanya yang lembut, Selena menyimpan badai yang tak terlihat oleh siapa pun. Emosi dalam dirinya bukan sekadar perasaan biasa-semuanya datang terlalu kuat, terlalu cepat, dan sering kali terlalu menyakitkan. Satu kalimat tajam dari seseorang yang ia sayangi bisa menghancurkan hari-harinya. Satu pesan yang tak dibalas bisa membuat pikirannya menari liar, berasumsi tentang penolakan, kebencian, atau ditinggalkan.
Selena tak jarang kehilangan kendali atas emosinya. Ia menangis karena hal yang tampak sepele bagi orang lain. Ia marah bukan karena benci, tapi karena kecewa dan takut ditinggalkan. Ia merasa kosong, seperti berjalan di dalam tubuh yang tidak ia kenali. Kadang ia menyakiti diri sendiri, bukan untuk mencari perhatian, tapi karena rasa sakit fisik lebih mudah ditahan daripada kekacauan di dalam dirinya.
Di depan orang lain, ia terlihat kuat. Cantik, misterius, berkelas. Tapi tak ada yang tahu bahwa setiap pagi ia harus memaksa dirinya bangun dari ranjang sambil menahan sesak di dadanya. Bahwa setiap malam, ia harus bertarung melawan pikirannya sendiri yang terus mengingatkan bahwa ia tidak cukup baik, tidak cukup dicintai, tidak cukup berarti.
Yang ia butuhkan bukan solusi cepat atau ceramah panjang. Ia hanya butuh seseorang yang mau tetap tinggal, bahkan saat dirinya sedang tidak bisa mencintai dirinya sendiri.
Raka, laki-laki desa, hidup sederhana, pelarian utamanya cuma membaca novel. Dunia nyata terasa sempit, dunia fiksi terasa lebih masuk akal.
Suatu malam, ia membaca sebuah novel terkenal. Plotnya menurut dia dangkal, karakternya bodoh, dan konflik terasa dipaksakan. Ia memaki novel itu dengan emosi yang tidak proporsional, seolah mengutuk takdir karakter-karakternya.
Karma datang cepat dan absurd.
Raka mati.
Ia terbangun sebagai Leonard Aurelian Vireaux, putra keenam keluarga konglomerat paling berpengaruh di dunia.