Di balik kehidupan dan waktu yang terus berjalan, ada jiwa-jiwa yang tertinggal-terjebak dalam kesedihan, penyesalan, dan kehilangan yang belum sempat mereka terima sepenuhnya. Mereka bukan tokoh dalam kisah besar, hanya suara-suara sunyi yang berusaha bertahan di bawah langit yang tak lagi biru.
"Langit Abu-Abu" menghadirkan potongan-potongan kisah dari mereka yang hidup dalam kegetiran, mencoba mencari makna dalam perpisahan, merelakan yang tak bisa dimiliki, dan berdamai dengan luka yang tak terlihat. Cerita-cerita ini sederhana, namun menyentuh-seperti gerimis yang datang diam-diam, namun lama-lama basah juga.
Buku ini adalah tempat bernaung bagi mereka yang pernah merasa sendiri, yang tahu betapa beratnya melepaskan, dan yang diam-diam berharap langit suatu hari akan cerah kembali.
Tanpa bicara sepatah kata pun, Axel berjalan menuju ranjang. Dia duduk di tepi kasur, memunggungi Lucia, lalu mulai melepas sepatunya.
Lucia gemetar hebat. Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus membantunya? Atau diam saja?
Axel menoleh ke samping, menatap Lucia yang sedang memeluk lututnya sendiri seperti landak ketakutan.
"Kenapa kau duduk di situ seperti patung?" tanya Axel, suaranya serak dan dalam.
"S-saya... menunggu instruksi, Tuan," cicit Lucia.
Axel mendengus. Dia berbaring telentang di kasur, mengambil tempat yang luas, menyisakan sedikit ruang untuk Lucia. Dia menatap langit-langit kamar yang tinggi.
"Berbaring," perintah Axel.